Sunday, January 3, 2016

Empat Tingkatan Qada' dan Qadar

Di meja kantorku hari ini, terlihat majalah lawas namun masih memikat, “ Swara Qur’an”. Koreksi hasil ujian mahasiswa dan tiga bendel naskah skripsi menjadi menu kerja hari ini dan besok masih belum selesai, namun saya perlu istirahat sejenak dan majalah itu kembali kubalik-balik halamannya. Ada catatan saya dari majalah ini tentang tingkatan qadha dan qadar (SQ Edisi 6 Th 9/Dzul Qo’dah/Nop 2009 hal 24-26). Catatan yang sewaktu-waktu bisa kubaca kembali sekaligus semoga ada manfaatnya untuk saudaraku seiman.
Ada empat tingkatan Qada’ dan qadar, yaitu:
1.       Al-‘Ilm (pengetahuan)
Artinya memahami dan meyakini bahwa Allah SWT Maha Tahu atas segala sesuatu di langit dan di bumi, secara umum maupun terperinci Termasuk perbuatan-Nya sendiri atau perbuatan makhluk-Nya.
2.       Al-Kitabah (penulisan)
Artinya mengimani bahwa Allah telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh mahfuzh. Ketika Nabi Muhammad ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau belum? Beliau menjawab: “Sudah ditetapkan”. Dan ketika beliau ditanya mengapa kita harus beramal dan tidak pasrah saja dengan takdir yang tertulis? Beliaupun menjawab: “Beramallah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut taqdir yang telah ditentukan baginya”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-lail: 5-10)
3.       Al-Masyiah (kehendak)
Artinya segala sesuatu yang terjadi atau tidak terjadi di langit dan di bumi adalah kehendak Allah SWT. Firman Allah SWT: “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Taqwir: 28-29)
4.       Al-Khalq (penciptaan)
   Artinya mengimami bahwa Allah pencipta segala sesuatu, di langit dan di bumi.  Firman Allah SWT :
     الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ       

      Maksudnya : "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(Surah al-Mulk (67) ayat 2)

Mungkin ada pertanyaan bagaimana dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak kita adalah ciptaan Allah SWT? Jawabannya adalah ya. Perbuatan dan perkataan kita timbul karena dua faktor yaitu kehendak dan kemampuan sedangkan yang menciptakan kehendak dan kemampuan tersebut adalah Allah SWT. Wallahu a’lam bish showab.


Ke Lumajang akhir tahun 2015, awal tahun 2016

             Hari ini awal Januari 2016, hari pertama beraktivitas lagi setelah liburan akhir tahun 2015 dan tahun baru 2016. Seperti tahun lalu saya ajak anak-anak berlibur ke Lumajang, mengunjungi neneknya. Waktu itu saya mengatakan pada neneknya anak-anak InsyaAllah kami datang lagi tahun depan. Dengan seijin Allah SWT sampai juga kami di Lumajang liburan tahun ini, naik kereta. Alhamdulillah.
              Silaturrahmi, saya tekankan pada diri dan anak-anak niat bersilaturahmi supaya Allah ridho dan perjalanan jauh ini tidak sia-sia. Agama mengisyaratkan pentingnya silaturrahmi dan saya teringat serta pegang erat ini: “Dari sahabat Abu Bakrah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah ada dosa yang lebih layak untuk disegerakan oleh Allah Ta’ala bagi pelakunya hukuman di dunia ditambah lagi hukuman yang Ia siapkan di akhirat dibanding perbuatan melampaui batas dan memutus hubungan silaturrahmi.” (Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy dan dishahihkan oleh Al Albany). Mempertemukan anak-anak dengan nenek, pakdhe budhe, sepupu, keponakan dan kerabat menjadi kebahagiaan tersendiri. Bahagia melihat nenek di lumajang menyambut cucu-cucunya. Bahagia melihat anak-anak bermain dengan sepupunya walau hanya sekali dalam setahun.
              Hanya Allah SWT yang tahu kapan kami dapat ke sana lagi, dapat berjumpa lagi. Foto di bawah ini adalah salah satu pemandangan persawahan tepi kampung Alm Bapaknya anak-anak. Pagi itu (30 Desember 2015), anak-anak jalan-jalan menengok sawah bersama nenek dan ziarah ke makam bapak dan kakek.

Monday, December 17, 2012

Hikmah Wujudnya Perasaan Cinta


Manusia ada di dunia ini karena cinta Allah kepada makhluk-Nya. Hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya pun berdasarkan cinta. Dia pun menyifatkan diri-Nya sebagai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Selain cinta kepada Allah, Rasulullah dan jihad sebagai cinta yang utama, wujud pula cinta kepada yang lain. Cinta kepada yang lain dibenarkan namun dengan syarat tidak melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Wujud cinta tersebut antara lain cinta kepada isteri atau suami, anak, benda, orang tua, dan lain-lainnya.
Menurut Fathi Muhammad Ath-Thahir dalam Hakadza Yablugha al-hubbu bainahuma, Daliluka ila as-sa’adah az-Zaujiyyah dinyatakan bahwa ada banyak hikmah wujudnya perasaan cinta.
1.   Merupakan ujian karena dapat menjadi ukuran bagi akhlak seorang hamba. Pada diri seorang hamba yang mendapat ujian ini dapat diketahui apakah ia akan melalui jalan yang mulia dan agung atau justru jalan kehinaan yang rendah. Selain itu juga akan teruji bagaimana ia menyikapi cinta, apakah secara berlebih-lebihan atau sepantasnya.
2.   Adanya cinta menyebabkan timbulnya kemajuan, perubahan, pembangunan dan kesejahteraan.
3.  Merupakan faktor penggerak yang utama dalam kehidupan manusia, hubungan antar manusia, dan pemanfaatan budaya manusia.
4.  Cinta pada tataran yang benar, akan mendukung ikatan kuat dalam keluarga, masyarakat, menciptakan keamanan, ketenangan, ketentraman di bumi.
5.   Bila iman menjadi dasar cinta, ketika sinarnya menghias hati maka akan tercipta keajaiban (Abdullah Nashih ‘Ulwan).

Sunday, December 16, 2012

Chatting dengan YM di ANTV 13 Desember 2012


Kali ini sekedar catatan semoga menjadi kenang-kenangan untukmu anakku, Lisa Fa’atirahmah. Ini video saat engkau mondok di Daarul Qur’an Cikarang dan ketika itu kau diajak ikut acaranya Ustadz Yusuf Mansur. 


Selamat belajar dan mengamalkan ilmumu serta mengajarkannya anakku. Semoga saat nanti kau buka postingan ibumu ini kau telah menjadi hafidzah. Aamiin.

Sumber video: http://www.youtube.com/watch?v=xATArghEyAg&feature=youtube_gdata
diupload oleh: enkaha

Penawar Hati bagi yang Mengalami Musibah


Seorang yang mendapatkan musibah sebaiknya menyadari bahwa dibalik musibah tersebut ada banyak perkara baik yang sedang dan akan dianugerahkan oleh Allah SWT kepadanya. Namun demikian, ia mesti menjalaninya secara ridha, ikhlas, bahkan lebih diutamakan lagi bila ia mampu bersyukur. Imam Abu Al-Farj Ibnu Al-Jauzi menunjukkan beberapa penawar bagi yang sedang mengalami musibah. Tulisan ini saya cuplik dari Majalah Islam kontemporari, Al Islam, edisi Desember 2012 hal 38.
Beberapa obat bagi hamba-Nya yang sedang mengalami musibah itu antara lain:
1.      Perlu disadari bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan kesusahan bukan untuk bersenang-senang.
2.       Setiap ujian dan musibah terjadi atas ketentuan Allah.
3.      Perlu melihat musibah yang lebih berat menimpa orang lain supaya dapat ridha dan bersyukur.
4.       Mengharap ganti pada Allah dengan yang lebih baik.
5.       Mengharapkan pahala atas kesabaran menghadapi musibah.
6.       Musibah terjadi atas kehendak Allah yang hendak menggantikan dengan yang lebih baik.
7.      Musibah itu terjadi karena ia menjadi pilihan Allah untuk menerima rahmat dan kasih sayang-Nya.
8.       Musibah terjadi bukan untuk selamanya.

Wednesday, November 28, 2012

Monolog dari Rahim


Untuk kedua kalinya mengalir lagi air mata ini, ketika sayup-sayup kembali terdengar puisi yang dibacakan oleh ustadzah Norhafizah Musa di radio Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) FM. Seruan janin yang menghadapi kesukaran akibat perbuatan tak bertanggung jawab ibu dan bapaknya. Janin-janin itu tidak dikehendaki hadir di dunia, bahkan sejak awal mereka diketahui ada. Perlakuan yang semena-mena dan teramat kejam kepada mereka sangat berkebalikan dengan teman-teman mereka yang telah ditunggu kehadirannya. Yang lain disambut, diadzan dan diiqomahkan, diberi nama dan diperlakukan dengan sangat baik. Sedangkan janin tak dikehendaki ini  bahkan tidak dianggap ada. Wahai saudaraku, dengarkanlah seruan dari rahim ini.


Monolog dari Rahim


Wahai, manusia yang sudi mendengar
Tahukah engkau bagaimana rasanya
Dikandung oleh seorang ibu yang membenci kandungannya?
Apakah rasanya bernyawa di dalam rahim perempuan yg sedang berkira-kira utk membunuh anaknya ?
Apakah rasanya terbentuk daripada dosa perzinaan yang jelik?
Apakah rasanya menjadi bayi yang tidak diakui hak keturunannya?
Aku telah dikeji sejak dalam kandungan.
Aku telah dihina sejak manusia mengetahui kewujudanku.
 
Hanya Allah Yang Maha Tahu...
Betapa takutnya aku untuk lahir ke bumi.
Akan adakah manusia yang menyayangiku?
Akan adakah insan yang melindungiku?
Akan adakah orang yang mengazan dan mengiqamatkan aku?
Aku tidak bersalah.....salahkah aku untuk mendengar seruan agung daripada adzan dan iqamat?

Aku akan tetap lahir juga...
Tapi lahirku tidak sama seperti kawan-kawanku yang lain.
Mereka disambut....sedangkan aku amat takut.
Mereka dihias pakaian baru yang comel....sedangkan aku dibungkus dengan plastik hitam.
Mereka tidur di atas tilam empuk yang wangi.....sedang aku akan bakal dihumban ke dalam tandas yang busuk.
Mereka ditunggu dengan nama yang baik-baik....sedang namaku hanyalah sumpah seranah.

Tolong....tolong....tolong....
Dimanakah pembelaku? Dimanakah pelindungku? Kemanakah pelarianku?
Tolonglah manusia.....ada binatang menggigitku, ada anjing merobek kulit dan dagingku!
Tolonglah manusia....aku kelemasan dalam ruang yang gelap ini.
Aku amat sejuk! Aku kehausan! Aku lapar! Aku takut!
Aku keseorangan....memang beginikah dunia ini?

Wahai, Allah! Ambillah aku kembali, biarkan aku pulang ke hadrat-Mu Ya Allah, aku tak sanggup tinggal disini.
Menanggung dosa perempuan yang tidak akan sekali-kali ku panggil ibu.
Menanggung dosa lelaki yang aku haramkan lidahku memanggilnya ayah.
Aku ingin pulang ya Allah.....Kasihanilah aku....Wahai Yang Maha Mengasihani.

Kepada yang sudi mendengar,
Kutitipkan kata-kata ini
Sebelum alam yang menyiksakan ini kutinggalkan.
Jadikanlah diri kalian pembela dan pelindung.
Penyelamat dan rahmat kepada semua lapisan umat ini.
Jangan biarkan ramai lagi yang senasib denganku.
Ia terlalu pahit dan sukar untuk ditanggung oleh insan selemah aku.
Ia terlalu pahit dan berat untuk dipikul oleh bayi kerdil sepertiku.
Tegakkanlah amar makruf dan nahi mungkar.

Nukilan Rasa: Ustadzah Norhafizah Musa.