Monday, June 27, 2011

Empat Tingkat Manusia Menghadapi Ujian

ibnul qayyim berkata yang intinya ada empat tingkat manusia dalam menghadapi musibah dari-Nya yang tiada seorangpun mampu menghindar.
1. tingkat orang yang lemah, mereka berkeluh kesah, tidak bersabar, dan marah dalam menghadapi musibah. biasanya dilakukan oleh orang yang akalnya lemah serta minim pemahaman agamanya.
2. tingkat orang yang sabar menghadapinya.
3. tingkat orang yang ridha menghadapinya. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sabar. Memang ada perbedaan pendapat mengenai hukum ridha wajib ataukah tidak sementara telah ada kesepakatan bahwa sabar hukumnya wajib.
4. tingkat orang syukur. Lebih tinggi dari tingkat ridha. Orang dalam tingkat ini menganggap cobaan sebagai nikmat, sehingga ia bersyukur menerimanya.

Syeikh Muhammad Ibnu Utsaimin (dalam Uddah Ash-Shabirin, hal 81) juga menyatakan adanya empat tingkat orang dalam neghadapi musibah yang pada dasarnya sama dengan Ibnu Qayyim: marah, sabar, ridha, syukur.
a. Marah, artinya dia marah atau benci dalam hati atau dengan lisan atau diekpresikan dengan anggota tubuhnya. Marah dalam hati seolah-olah merasa Allah telah menzhaliminya dengan memberi musibah tersebut. Adapun marah dengan ucapan adalah mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kemarahan. Marah yang diekspresikan dengan anggota tubuh misalnya menampar dahinya sendiri, membenturkan kepalanya, mencabuti rambutnya, merobek pakaiannya dan lainnya. Mereka panik dan gelisah dalam menghadapi musibah sehingga tidak memperoleh pahala. Justru mendapat dua musibah sekaligus yaitu musibah yang sedang dihadapi dan musibah karena menyakiti diri sendiri.
b. Sabar dengan menahan diri. Dia bersabar dengan musibah itu dan tidak mengucapkan kata-kata yang membuat Allah murka, tidak melakukan yang dibenci Allah dan tidak berprasangka buruk kepada Allah walaupun ia sebenarnya kecewa dengan musibah itu.
c. Ridha. Artinya dia lapang dada dan ridha dalam menghadapi musibah itu seolah-olah dia tidak sedang mengalami musibah.
d. Bersyukur. Seseorang yang bersyukur mengahadapi musibah. Apabila Rasulullah melihat sesuatu yang tidak disukai, beliau mengucapkan, "segala puji hanya bagi Allah atas semua kondisi". (HR. Ibn Majah). Kesyukuran itu dimaksudkan supaya Allah melimpahi dengan pahala yang lebih besar dari kesabarannya menghadapi musibah tersebut.

Diambil dari Tuntunan Takziah menurut Al-Qur'an dan Sunnah oleh Zhafir Ibnu Hasan Ali Jam'an. Judul asli At-Takziyah wa Ahkamuha fi Dhau' Al-Kibab wa As-sunnah. Diterjemahkan oleh Khoirul Amru H. Lc. M.Hi. Penerbeit: Pustaka Al-Kautsar, 2006.

No comments:

Post a Comment