Tuesday, June 28, 2011

Mengambil bagian dengan jalan zuhud

Hari Selasa 5 syawal 545H, Al-Sayyid Syaikh Muhyiddin Abdul Qadir Al-Jailani menyampaikan pesannya dalam suatu majelis. Beliau mengungkapkan bahwa perlunya perjuangan yang teguh dalam diri kita untuk berzuhud. Apabila kita ingkar maka kita perlu bersiap untuk disingkirkan oleh-Nya, dipukul dan dihinakan. Oleh karena itu kita perlu kembali pada-Nya. Kita perlu menghindar dari bergembira atas apa yang telah kita peroleh karena itu akan segera musnah. Ingat apa yang difirmankan oleh Allah SWT ‘Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu buat mereka, sehingga mereka begembira dengan apa yang diberikan kepada mereka. Kami akan merenggut dari mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa’ QS Al-An’am 44.

Kita diciptakan tidak untuk kekal dan bersenang-senang serta bergembira di muka bumi ini. Maka apa-apa yang dibenci Allah yang ada pada diri kita perlu segera diubah menjadi keredhaan-Nya. Kita telah mengakui perintah untuk taat kepada Allah dalam ucapan kita ‘tiada tuhan selain Allah’. Namun ucapan ini tidak akan berarti apa-apa apabila kita barengi dengan kemaksiatan, kesalahan dan penentangan terhadap Allah SWT seperti meninggalkan sholat, puasa, zakat dan amal kebaikan. Kalaulah ini telah dilakukan, maka perlu pembuktian akan keikhlasan-Nya karena amal tidak diterima tanpa keikhlasan.

Merupakan salah satu bukti ketidakikhlasan rayuanmu pada Allah adalah engkau menolak ketika ada orang miskin meminta sebagian dari hartamu yang sesungguhnya kedatangan orang tersebut merupakan hadiah Allah kepadamu untuk mendekatkanmu dengan-Nya. Bagaimana mungkin kita menolak hadiah dari-Nya disaat kita merayu dan menangis memohon karunia-Nya…

Kedudukan manusia pada dasarnya tidak ditentukan oleh kekasaran pakaian dan makanan. Ia ditentukan oleh kezuhudan hati. Sangat dianjurkan kita untuk mengambil bagian dengan jalan zuhud bukan dengan jalan kegembiraan. Orang yang makan sambil menangis akan mempunyai hikmah yang berbeda dengan orang yang makan sambil tertawa. Makanlah bagianmu sementara hatimu senantiasa bersama Allah, maka kamu akan selamat dari kejahatan, demikian kata syaikh. Amanah akan hilang dari sisi kita dan kasih sayang akan musnah dari pergaulan kita. Hokum syarak adalah amanah bagi kita yang tidak seharusnya kita tinggalkan dan kianati karena nanti kita akan dimintai pertangunganjawabnya. Apabila gagal, azab Allah amatlah pedih.

Syukur perlu kita langgengkan dalam memelihara kenikmatan yang dikaruniakan-Nya. Terimalah perintah dan larangan-Nya dengan mendengar dan mentaatinya, Terimalah kesusahan dan cobaan dengan sabar, serta hadapi kemudahan dengan syukur. Kita perlu mengngat kematian dan apa yang akan terjadi sesudahnya. Ingat akan apa yang akan diperhitungkan Allah kepada kita nanti. Kita sepatutnya tidak lagi lena, bergelut dalam kebatilan kebodohan kesombongan dan kerusakan.. Kembalilah..kembalilah pada beribadah pada Allah Al-Haq dan taati syariat-Nya, membiasakan diri dengan Al Qur-an dan Al-Sunnah.

Dalam bergaul dengan manusia hendaknya tidak dengan kebutaan, kebodohan dan kelalaian tetapi dengan pandangan hati atau bashirah, pengetahuan dan kewaspadaan. Apabila kita melihat suatu perbuatan terpuji maka ikutilah. Apabila perbuatan mereka tidak baik, jauhilah mereka.

Kita perlu memerintahkan jiwa kita untuk senantiasa terjaga dan ingat kepada Allah. Selalulah berhubungan dengan Masjid dan banyak berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Disarikan dari buku wasiat dan nasehat kerohanian -Sayyid Syaikh Muhyiddin Abdul Qadir Al-Jailani. Al-Kuala Lumpur, Hidayah Publication, 2008.

No comments:

Post a Comment