Monday, June 27, 2011

Mengingat Kematian

Suatu saat di bulan ramadhan 1431 H, pak Rosul menikmati sajian ilmu dalam buku karya Imam Ghozali, Ihya' ulumuddin yang kemudian beliau sajikan dalam tulisan berikut. Agaknya tulisan ini belum selesai, beliau menghadap Illahi 24 Maret 2011. Agaknya Allah telah menuntun beliau lebih memperdalam agama dan mendekat kepada-Nya di akhir hidupnya. Pada masa beliau menulis mengenai kematian ini, beliau masih sehat dan semestinya tidak ada yang menuntun beliau untuk beramal sholih selain Allah SWT.



MENGINGAT KEMATIAN DAN KEHIDUPAN SESUDAHNYA


Memang agak ngeri ketika membicarakan tentang kematian dan kehidupan sesudahnya. Tetapi kematian ini adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia. Datangnya sangat cepat dan tidak diduga-duga, tidak perlu menunggu harus sakit bahkan ketika sehatpun bisa terjadi seperti kecelakaan lalu lintas, bencana, dan sebagainya. Tidak perlu menunggu persiapan amal manusia banyak terlebih dahulu baru kemudian mati, tidak demikian dalam kenyataan, tetapi kematian tiba-tiba datang tidak peduli seseorang sudah siap dengan amalan kebaikan yang banyak atau belum. Kematian juga pasti bagi makhluk hidup selain manusia seperti tumbuhan, hewan bahkan malaikat, jin dan syaitan (Al Imran:185)



yang maksudnya “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

Tema ini mulanya juga menjadi tanda tanya penulis: buku apa yang cocok untuk membahas detail tentangnya. Akhirnya saya menemukan buku berjudul MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU AGAMA (IHYA’ ULUMUDDIN) karangan Ulama’ besar, terkenal dan tidak ragu ketawaduannya kepada Allah SWT ialah IMAM AL GHAZALI setelah proses mencari di beberapa situs internet belum juga memuaskan keingintahuan saya mengenai apa itu kematian dan bagaimana cerita nabi Muhammad SAW bersama para sahabat r.a. ketika menghadapi kematian. Dengan izin Allah SWT, sambil menunggu buka puasa Ramadlan 1431 H, saya coba baca-baca buku tersebut di Masjid Jami’ Kajang Selangor. Ketika itu yang saya pikirkan adalah mencari tahu hal ihwal tentang perkara kematian. Alhamdulillah saya menjumpai pembahasan seperti yang saya inginkan yaitu pembahasan yang terpercaya, sangat detail disertai dasar-dasar Al Quran dan Hadis.

Imam Al Ghazali menyampaikan dengan pendekatan logika, sistematis dan jelas. Membaca bukunya seperti membaca “komik” karena ceritanya runtut tidak terputus-putus. Satu perkara dibahas sampai selesai baru membahas yang lain. Pembaca dibuat enak, asyik dan nyaman bahkan membuat “trenyuh” sampai mata berkaca-kaca. Membacanya seperti rekreasi religi batin yang merilekskan jiwa yang sedang tegang.

Ketika membaca buku Ihya’ Ulumuddin bab 4 setebal 1111 (seribu seratus sebelas) halaman akan menjumpai bab kematian. Buku Ihya’ Ulumuddin yang berumur ratusan tahun ini terdiri atas delapan bab dan sudah ada terjemahan dalam Bahasa Indonesia bahkan Ringkasan. Membandingkan yang ringkasan dan yang lengkap, membaca dalam versi lengkap terasa lebih indah bahasanya berbanding ringkasan yang “kering” karena mungkin bahasanya yang to the point. Walaupun demikian membaca kedua-duanya sekali merupakan keuntungan karena versi ringkasan sangat lugas dan beberapa yang dianggap kurang penting dihilangkan. Dari hasil membaca tersebut, saya ingin kembali mengungkapkan dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dicerna syukur kalau ada pembaca yang merasakan manfaatnya.

Pada bagian awal akan dijelaskan konsep apa itu mati, kemudian baru membahas tentang kematian dan pengalaman orang sholeh ketika menghadapi mati. Orang Sholeh dipilih karena pada diri mereka ada suri tauladan yang patut dicontoh.

ARTI KEMATIAN

Kematian merupakan berpisahnnya roh dari jasad, bukan lenyapnya roh. Ini diungkapkan oleh Allah dalam surah Ali Imran: 169-170.


Maksudnya, “Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Rabnya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira.”

Ayat tersebut menyinggung bahawa roh orang yang mati syahid masih hidup di sisi Allah walaupun jasadnya telah mati. Dalam penjelasan Depag RI Al-Aliyy Al Quran dan Terjemahnya oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an (2006) disebutkan maksud ayat tersebut adalah mereka hidup di alam yang lain yang bukan alam kita ini. Mereka mendapat berbagai kenikmatan di sisi Allah dan hanya Allah saja yang mengetahui bagaimana keadaan hidup di alam lain itu.

Lalu bagaimana dengan kematian orang kafir? Ini diungkapkan dalam hadis nabi bahwa roh orang yang meninggal masih bisa mengenali pembicaraan orang yang hidup. Hadis ini tidak diungkapkan - dalam buku ringkasan Ihya’ Ulumuddin tersebut - siapa perowinya, hanya disampaikan langsung isinya. Perowi dengan maksud isi hadis yang sama justru ada di tulisan Ahmed Hulusi (t.th.) berjudul Religious Misunderstandings www.ahmedhulusi.org yaitu hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari. Bunyi hadis di bawah ini sepertinya diringkaskan karena dalam versi yang ditulis oleh Ahmed Hulusi lebih lengkap berbanding Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, tetapi inti isinya sama tentang kematian. Isi hadis tersebut sebagai berikut.

Pada perang Badar Nabi Muhammad SAW bersabda kepada para pemuka Quraisy yang telah mati, “Hai Fulan dan hai Fulan, aku benar-benar mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabbku. Maka apakah kalian juga benar-benar mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian?” Seorang sahabat (Umar RA dalam versi Ahmad Hulusi) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda sedang berbicara kepada orang yang sudah mati?” Beliau bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sesungguhnya mereka itu lebih mendengar ucapanku daripada kalian. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab.”

Bagaimana pula keadaan roh orang mukmin yang meninggal? Diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari dari Nabi SAW, sesungguhnya beliau bersabda, “Sesungguhnya ketika nyawa orang mukmin telah dicabut, ia langsung diterima oleh orang-orang yang mendapat rahmad di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana ia diterima oleh sang pembawa khabar gembira ke dunia. Mereka berkata satu sama lain, “lihat saudaramu. Biarlah ia istirahat, setelah ia menderita kesusahan yang sangat.” Kemudian mereka berkata kepada orang mukmin itu, “Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si Fulanah? Apakah wanita itu sudah menikah? Ketika ia bertanya kepadanya tentang seseorang yang meninggal dunia sebelumnya, lalu ia (roh yang baru meninggalkan jasad) menjawab, “Ia sudah meninggal dunia sebelum aku”, maka mereka (roh orang-orang mukmin) berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ia telah dibawa ke tempatnya di neraka Hawiyah.”

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas bagaimana kondisi mati, Imam Al Ghazali menjelaskan dalam Bab 4 bahwa ada roh yang benar-benar meninggalkan jasad dan ada juga yang meninggalkan sebagian jasad. Imam Al Ghazali mengibaratkan orang yang lumpuh berarti meninggal sebagian karena hanya sebagian roh saja yang berpisah dari jasad. Kalau lumpuh kaki maka di kaki tersebut sudah tidak ada roh lagi sedangkan bagian tubuh yang lain masih hidup karena memiliki roh.

Imam Al Ghazali juga memberi gambaran antara orang hidup dan mati tidak bisa bertemu. Hidup dan mati tidak pernah bertemu diibaratkan oleh Imam Al Ghazali seperti antara orang tidur dan terbangun yang tidak bisa bertemu. Keduanya berbeda dan tidak dapat saling bercakap-cakap. Orang tidur berbeda alam dengan orang yang bangun. Begitulah orang mati dan hidup memiliki alam yang berlainan.

WAFATNYA RASULULLAH DAN PARA KHULAFAUR RASYIDIN


Ada alasan untuk memilih Rasulullah dan para sahabatnya dipilih sebagai judul karena pada diri Rasulullah merupakan contoh teladan yang baik yang perlu ditiru.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21).

Demikian juga akhlak para sahabat nabi Muhammad SAW yang selalu tawadlu’ taat kepada Allah dan Rasulullah. Bukankah nabi saw memperjelaskan sesuatu urusan agama itu kepada para sahabat, dan kemudiannya para sahabat nabi pula mengajar orang yang selepasnya dari golongan tabien dan seterusnya lagi ilmu diperturunkan kepada kita melalui generasi para ulama’ salafussoleh.

Nabi Muhammad dan para sahabat beliau kini pun telah meninggalkan dunia, apalah kita umatnya sudah tentu akan meninggal juga. Tidak seorangpun manusia bisa hidup kekal. Firman Allah dalam QS al-Anbiya’21:34.

Maksudnya, “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad), maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?”

Ketika Rasulullah menjelang ajal, beliau Rasulullah menyampaikan bahwa tempat kembali beliau setelah meninggal adalah kepada Allah dan Sidratul Muntaha, kemudian ke surga tempat menetap yang abadi surga yaitu Surga Firdaus Tertinggi. Beliau Nabi SAW juga menyampaikan pesan urutan yang dilakukan dalam pengebumian jasad beliau.

Skema perjalanan yang Mulia Roh Nabi Agung Muhammad SAW
Skema Urut-urutan Pemakaman Rasullullah SAW

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra. Sesungguhnya Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar, “Bertanyalah, wahai abu Bakar.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, ajal telah dekat.” Beliau bersabda, “Telah dekat dan telah turun.” Abu Bakar berkata, “Semoga apa yang ada di sisi Allah menyenangkan anda wahai Nabi Allah. Seandainya saja aku tahu tentang tempat kembali kita.” Beliau langsung menjawab, “Kepada Allah dan Sidratul Muntaha, kemudian ke surga tempat menetap yang abadi. Di sana ada surga Firdaus tertinggi, ada gelas yang penuh minuman, ada ar-Rafiq al-A’la, ada keberuntungan dan ada kehidupan yang nyaman.” Abu Bakar bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapa nanti yang akan memandikan anda?” Beliau menjawab, “Seorang laki-laki dan keluargaku yang terdekat, lalu yang terdekat.” Sahabat bertanya, “Dengan apa kami akan mengkafani Anda?” Beliau menjawab, “Dengan bajuku ini, pakaian Yamani dan Qubathi (pakaian catton) Mesir.”

Selanjutnya Abu Bakar bertanya, “Bagaimana nanti kami menshalatkan engkau?” Sahabat dan beliau sama-sama menangis. Beliau bersabda, “Sabarlah. Semoga Allah mengampuni kalian dan memberikan balasan kebajikan kepada kalian atas jasa kalian terhadap Nabi kalian. Ketika nanti kalian selesai memandikan dan mengkafaniku, letakkan aku di atas ranjangku di rumahku ini di tepi kuburku. Kemudian tinggalkan aku sebentar, karena yang pertama kali memberikan rahmad kepadaku adalah Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Agung. Dia dan malaikat-Nya juga akan memberikan rahmad kepada kalian. Kemudian Allah akan memberikan izin kepada malaikat untuk mensembahyangkan aku. Jadi yang pertama kali masuk kepadaku dari makhluk Allah dan mensembahyangkan aku adalah Malaikat Jibril as., lalu Mikail as., lalu Israfil as., lalu malaikat maut beserta anak buahnya yang cukup banyak, lalu seluruh malaikat, kemudian kamu sekalian, shalatkanlah aku dan ucapkan salam kepadaku. Jangan menyakiti aku dengan sanjungan yang berlebihan, jangan berteriak, jangan menjerit-jerit dan jangan meratap. Hendaklah yang memulai dari kalian adalah seorang imam dan keluargaku yang terdekat, lalu yang dekat, kemudian rombongan kaum wanita, kemudian anak-anak.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Siapa yang masuk ke dalam kubur?” Beliau menjawab, “Rombongan keluargaku yang terdekat, lalu yang dekat bersama banyak malaikat. Kalian tidak bisa melihat mereka, namun mereka bisa melihat kalian. Pergilah dan sampaikan salamku kepada orang-orang sepeninggalku.

Bagaimana dengan detik-detik Rasulullah akan meninggal? Ini memberikan gambaran apa yang akan terjadi ketika orang mulia akan meninggalkan dunia. Kerinduan bertemu Allah dan Allah rindu berjumpa Beliau. Sebelum meninggal beliau berjumpa dengan Malaikat dan pingsan, hingga keningnya mengeluarkan keringat yang lebih harum daripada keringat beliau. Detik-detik menjelang wafat berkali-kali beliau mengucap Ar-Rafiqu al A’la, Ar-Rafiqu al A’la. (mungkin ini maksudnya Ar Rafiq nama-nama Allah diantara yang 99, al A’la yang maha tinggi ).

Aisyah ra. berkata, “

Penulis:
Mochamad Rosul,
Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
Semarang

Segala masukan kirim ke email: mrosul at yahoo.com

No comments:

Post a Comment