Monday, July 25, 2011

Aku, Perpaduan Bapak dan Ibuku

Sebagai catatan, aku dalam kisah ini adalah anakku, Lisa. Waktu kubuat tulisan ini lisa masih kelas empat SD. Sampai sekarang, saya masih belum menemukan jawaban yang bisa diterima Lisa atas pertanyaanya yang saya jadikan fokus utama tulisan ini. Mungkin ada yang bisa memberi saya masukan. Atau mungkin dibiarkan saja begini, nanti ia akan mengetahui jawabannya dengan sendirinya. Selamat membaca.


Siang yang cerah, aku sudah pulang dari sekolah ketika itu. Sepeda kumasukkan ke garasi pondok. Di sana telah berjajar sepeda dik Hanif, sepeda Sarah, dan Fathia. Kuletakkan sepedaku disamping sepeda Fathia. Kulepas sepatu dan kuletakkan di rak sepatu yang ada di garasi itu. Melalui pintu garasi yang menuju ruang tengah, aku masuk ke kamar. Di sana Sarah sudah mengganti baju seragamnya dengan baju merah jambu yang biasanya dia pakai jika berada di rumah. “Lis, kamu mirip siapa? Bapakmu atau ibumu? Sifat kamu seperti bapakmu atau ibumu?” “Bagaimana dengan dik Hanif?” Sarah memberondongku dengan banyak pertanyaannya. Oo rupanya Sarah sedang melihat foto bapak ibuku yang kutempel di lemari pakaian.


Ingatanku menerawang jauh, menuju rumahku di Dusun Gandok, Wedomartani, Sleman. Di rumah itu kami sekeluarga merasakan kebahagiaan sebagai sebuah keluarga. Rumah di samping sebuah mesjid, ya, memang bapak mendambakan mempunyai rumah yang dekat dengan masjid. Allah telah mengabulkan keinginan bapakku. Setiap bapak ada di rumah dan telah terdengar panggilan adzan, maka bapak akan segera mengambil wudlu dan pergi ke masjid. Rumah itu tidak besar dan tidak kecil, tetapi yang agak lain dengan rumah-rumah disekitarnya adalah bapak ibuku membangun agak tinggi. Kata mereka, meniru dari rumah kakek nenekku. Kakek nenekku meniru rumah peninggalan zaman Belanda yang terlihat lebih tinggi dibanding rumah-rumah lain pada umumnya. Kakekku dulu mengatakan bahwa rumah tersebut terasa adem.


Di suatu sore ketika aku bertiga dengan adik hanif dan Dik Tifa selesai mandi dan memakai baju dengan rapi, rambut pun telah disisir. Ibu juga memakaikan bedak bayi pada tubuh dan wajah Dik Tifa, sedangkan aku dan Dik Hanif sudah tidak mau lagi memakai bedak itu, karena aku tidak mau terlihat seperti bayi. Ketika sudah selesai ibu memakaikan baju dik tifa dan menyisir rambutnya dan membantu Aku dan Dik Hanif merapikan diri, ibu selalu mengatakan “anak cantik!”. Saat bapak mendengar, biasanya terus menyambung dengan kalimat “seperti ibunya”. Kata ibu, itu juga sering dikatakan oleh nenek dulu pada ibu. “Cah ayu!”, kata nenek dahulu waktu ibu masih tinggal bersama nenek. Tetapi biasanya nenek lebih sering mengatakan itu pada saat menyuruh ibu melakukan sesuatu. “Iki disapu cah ayu” kata nenek pada ibuku jika meminta ibu membantu menyapu, misalnya. Tetapi kata ibu, wajah ibu biasa saja dan ibu tetap mau melakukan perintah-perintah nenek sekalipun tanpa disebut sebagai cah ayu. Namun, ibu merasakan bahwa ada kasih sayang nenek dengan memanggil ibu demikian.


Begitu juga aku, ibu sering bilang aku cantik, aku pintar, aku sholikhah. Aku merasakan ibu menyayangiku. Terkadang ibu mengatakan hal tersebut sambil menciumku. Terkadang bila bapak yang mengatakan aku atau adik-adikku pintar karena telah melakukan sesuatu, ibu sering menimpali dengan kata-kata “seperti bapaknya”. Jadi pernah juga aku tanya “bu, aku ini seperti bapak atau ibu?”. “Mbak Lisa adalah perpaduan ibu dan bapak”, jawab ibu. “Kenapa, bu? Kok bisa perpaduan bapak dan ibu?, bukankah ibu yang hamil dan ibu yang melahirkan?” “sedangkan bapak kan paling hanya mengganti popok saja atau membantu memandikan” tanyaku membuat ibu terlihat berfikir mau menjawab apa. Walaupun aku tidak ingat lagi peristiwa kala aku bayi, tetapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ibu mengandung adikku dan aku tahu ibu juga yang melahirkan adikku. Jadi bapak itu tidak ada kaitannya dengan keberadaan aku dan adik-adikku. Kok bisa ibuku mengatakan aku perpaduan bapak dan ibu. Aghh… aku tidak mudeng… Tetapi ibu akhirnya menjawab, “karena Bapak dan ibu sudah menikah” sahut ibu berusaha meyakinkan aku. “iya kalau menikah terus kenapa? Kan yang hamil tetap hanya ibu?” tanyaku dalam hati.


“Lis, seperti siapa lis kamu?” tegas Sarah membuyarkan ingatanku pada rumah dan keluargaku. “Seperti Bapak dan Ibu lah, kamu kan sudah lihat bapak dan ibuku” jawabku mantab, walaupun dalam hati masih ada pertanyaan yang mengganggu. “Ibu pernah mengatakan bahwa Dik Hanif hitam manis badannya agak kecil tetapi tidak seperti aku yang badannya lebih besar sedikit putih. Wajah Dik Hanif seiras dengan wajah bapak, sedangkan wajahku mirip ibu. “lha, kalau kamu, Sar! Seperti siapa?” tanyaku kemudian. Belum sempat sarah menjawabnya, Kak Ima, …,… masuk kekamar baru datang dari sekolah membuyarkan pembicaraanku dengan Sarah. Kami pun akhirnya sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut seruan Illahi karena adzan Ashar telah terdengar. Biasanya kami shalat berjama’ah di rumah, sedangkan sholat Maghrib, Isya dan subuh di Masjid.

No comments:

Post a Comment