Wednesday, July 20, 2011

Apa yang Sesungguhnya Kita Inginkan

Lisa, 12 tahun pada suatu hari di bulan April 2011 mengatakan pada ibunya. “Aduh bu, mbak Lisa tadi sudah deg-degan waktu ibu katakan bahwa, “Selama ini nasehat yang selalu kita dengar adalah tidak mengejar dunia tetapi utamakan akherat, tapi ibu membaca nasehat syeikh Abdul Qadir Al-Jailani bahwa pada taraf keimanan lebih lanjut Allah akan mengilhamkan pada kita untuk tidak menginginkan dunia bahkan akherat sekalipun”. Lega hati Lisa ketika ibunya melanjutkan cerita bahwa, dalam nasehatnya Syeikh mengatakan pada tahap keimanan tersebut orang itu hanya menginginkan Allah, sebagai pencipta dunia dan akherat. Dengan mengejar Allah, dengan menjadi kekasih Allah pastilah kita tidak akan kecewa (akherat telah dijanjikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan lagi, janji Allah adalah pasti). Lisa lega karena sebelumnya telah mengira ibunya telah berfikiran yang aneh-aneh sehingga tidak menginginkan dunia bahkan akherat. Lalu saya pun bercerita bahwa rata-rata sufi telah mencapai tahapan keimanan tersebut, namun bukan berarti manusia biasa tidak dapat berkeinginan dan berusaha kearah sana. Memang sungguh berat perjalanan menuju ke sana, bahkan meninggalkan dunia dalam arti bersikap zuhud pun masih tertatih-tatih.

Sehubungan dengan hal itu, teringat pula akan kisah percakapan iblis dengan Abul Qasim Al-junaid mengenai iblis yang tidak berkutik kala orang lari dari dunia dan akherat yang ditawarkan olehnya. Dalam percakapan itu Junaid bertanya pada iblis apakah dapat memperdaya orang miskin. Iblis menjawab tidak karena ketika akan dijerat dengan harta kekayaan dunia, mereka lari ke akherat. Ketika akan dijerat dengan akherat, mereka lari kepada Allah, dan di situ iblis tidak dapat mengejar mereka lagi. Kini, saatnya muhasabah diri, ketika ini apa yang kita inginkan dan kita kejar-kejar. Selanjutnya bagaimana langkah lanjut yang semestinya dilakukan untuk menggapai cinta-Nya.

No comments:

Post a Comment