Friday, July 22, 2011

Itung-itungan Sedekah, bolehkah…

Pertanyaan ini pernah dilontarkan sebagian orang setelah mendengar penjelasan mengenai sedekah dan balasan yang akan diberikan oleh Allah SWT. Perintah sedekah ada dalam banyak ayat dalam Al Qur’an, disana disebutkan pula balasan yang akan diberikan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang bersedekah. Sebagai umat Islam tentunya kita meyakini dengan sepenuh keyakinan perintah sekaligus janji Allah tersebut. Setelah kita tahu ada ayat-ayat tersebut tentunya mesti ada pengamalannya. Bukankah ilmu selalu diikuti dengan amal, kalau tidak kita mesti mempersiapkan jawabannya kelak di akherat mengapa. Mengenai niatnya, memang benar ikhlas adalah nyawa setiap amalan. Namun, kita juga tidak berhak mengatakan bahwa orang yang setelah bersedekah kemudian mengharap Allah melimpahi dengan ganjaran tertentu adalah tidak ikhlas. Bukankah Allah sendiri yang telah memberikan janjinya supaya kita dapat berharap. Ustadz Yusuf Mansur berkali-kali mengatakan bahwa ini adalah masalah keimanan. Kita mengimani kalam Illahi, dimana letak salahnya. Setelah bersedekah, dilanjutkan dengan do’a, dimana letak salahnya.

Setiap orang memang mempunyai kadar keimanan yang berbeda-beda, konon pada taraf keimanan yang sangat tinggi bahkan akherat pun sudah tidak diinginkan apalagi dunia, telah lama mereka ‘ceraikan’. Pada kalangan ini yang diinginkan hanya satu Allah sebagai pencipta dunia dan akherat. Mereka toh tetap sangat mengimani kalam Allah ini, contoh Ali bin Abi Thalib ketika istrinya menginginkan buah. Dengan hanya mempunyai sedikit uang beliau membeli buah yang hanyak mendapat satu saja dan di tengah perjalanan pulang datang pengemis sehingga diberikanlah buah itu. Apa yang terjadi akhirnya adalah Allah telah mengganti satu buah itu dengan sepuluh buah dengan cara-Nya. Demikian juga kisah Rabi’ah yang hanya mempunyai dua potong roti ketika datang dua tamu. Namun ketika itu datang pengemis dan diberikanlah dua roti tersebut. Allah pun memberi gantinya sehingga Rabi’ah dapat menjamu tamunya dengan baik. Mereka tahu dan menghitung ketika roti yang datang tidak genap seperti yang dijanjikan Allah misalnya 9 dari yang dijanjikan Allah 10 sehingga mereka baru mau menerima bila yang datang sejumlah yang dijanjikan Allah.

Jadi, menurut pendapat saya pribadi mengapa kita tidak memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk bersedekah. Biarlah setiap kita bersedekah secara istiqomah baik yang mengharap ganjaran seperti yang dijanjikan Allah atau yang tidak. Sebaiknya kita menghindarkan diri dari mengatakan orang lain tidak ikhlas. Insya Allah, apabila sedekah dilakukan secara istiqomah nanti Allah yang akan memperbagus niat itu. Bukankah Allah yang menggenggam hati kita. Kalau Allah menghendaki mencurahkan nur-Nya dalam qolbu manusia, kun fayakun. Allah juga sangat menyayangi seseorang yang dengan tekunnya beramal sholeh termasuk di dalamnya sedekah. Apabila Allah menyayangi kita, insyaAllah akan ada kejutan-kejutan tak terduga yang akan kita rasakan karena rahmat-Nya. Yang terpenting dan terutama dari kejutan-kejutan itu adalah menjadi kekasih-Nya.

Saya pribadi, sungguh berterima kasih pada ustadz Yusuf Mansur, yang telah menjadi salah satu ‘pintu’ bagi saya untuk masuk dalam kenikmatan beramal sholeh atas ijin Allah. Sesungguhnya, apa yang beliau sarankan adalah sangat komprehensif tidak hanya terbatas pada sedekah. Sedekah yang dilakukan merupakan bagian dan amalan dalam kehidupan kita. Amalan wajib mesti dilakukan dan diperbaiki kualitasnya misalnya sholat 5 waktu berjama’ah diawal waktu di masjid untuk laki-laki bahkan kalau bisa datang sebelum azan, qobliyah dan ba’diyah, khusyu’ dan seterusnya. Amalan sunnah diperlengkap dan diperbaiki kualitasnya. Ustadz pula yang menginspirasi supaya kalau perlu dimaksimalkan misalnya sholat dhuha 12 raka’at, tahajud 8 raka’at dan 3 witir. Sholat sunnah lain pun kalau diyakini baik, maka sebaiknya pula dilakukan misalnya tasbih, hajat, taubat atau lainnya. Puasa sunnah saya cari yang paling disenangi Allah, hadist Nabi yang saya temui menunjukkan puasa daud. Sedangkan Sholat 1/3 malam terakhir juga paling disenangi Allah. Memperbanyak istiqfar serta zikir sepanjang hari. Perbanyak membantu orang dan jangan menyakiti orang lain. Menutup aib orang lagi, tidak menyakiti ibu dan bapak, menghindar dari menggunjing dan perbuatan tercela lainnya. Ketika kehidupan kita teratur dengan amalan wajib dan sunnah tersebut plus sedekah tentunya, maka insyaAllah kita dapat merasakan sesuatu yang indah. Apa itu, mari kita merasakan dan membuktikan sendiri.

No comments:

Post a Comment