Sunday, July 24, 2011

Kedatangan Ain di Suatu Siang dan Ujian Hidupnya

Siang hari di awal bulan Juli 2011, pintu rumahku diketuk seseorang yang setelah kubuka ternyata seorang wanita sebutlah dengan nama samaran Ain dengan mata sembab terlihat baru saja menangis. Ia menitipkan baju-bajunya yang dibungkus dengan tas plastik besar, terkesan tergesa-gesa. Ia katakan akan diambil sewaktu-waktu kalau sempat dan ia juga mengatakan tidak bisa menjelaskan pada saya mengapa, kemudian ia pergi. Selang setengah jam kemudian ia datang lagi, saya persilakan masuk dan saya suguhi minuman dan saya hibur sebisanya. Dalam hati, saya akan menolong dia semampunya dengan pertimbangan kemanusiaan dan hukum agama serta hukum negara yang berlaku.

Ain kemudian menceritakan bagaimana sakit hatinya telah diusir oleh suami yang telah mempunyai wanita lain. Wanita lain itu tidak lain adalah pegawai yang bekerja di rumah mereka, wanita itu tidak dinikahi namun telah mempunyai dua anak dari suaminya, yang terkecil masih bayi. Katanya, Ain mulanya tidak mengetahui kalau itu adalah anak suaminya bahkan sampai bertahun-tahun, karena suaminya mengatakan bahwa itu anak orang dan mereka hanya akan menolong. Agak aneh juga sih, kenapa sampai tidak tahu, benarkah tidak tahu. Suaminya berjanji akan mengembalikan wanita ini kepada keluarganya, namun janji tersebut belum terlaksana.

Ain bertanya pada saya, ‘kalau kakak jadi saya, apa yang akan kakak lakukan’. Saat itu saya menjawab, ‘Saya akan mengambil keputusan kalau hati sudah tenang, bukan saat kalut, jadi adik redakan dulu emosi, tenangkan hati, boleh sementara disini sambil kita fikirkan jalan keluarnya.’ Jadilah ia menginap di rumahku. Ia banyak bercerita peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hatinya mengingat mereka bertiga ditambah anak Ain dan anak wanita lain itu di rumah mereka. Ada dua wanita dalam satu rumah tangga bahkan dalam satu rumah, duh saya pun mungkin akan merasakan yang sama kalau mengalami hal tersebut.

Pada Ain saya katakan bahwa setiap orang akan mendapat ujiannya masing-masing dan disebalik ujian itu pasti ada kebaikan bagi yang mengalaminya. Itu sudah hukumnya begitu, insyaAllah Dia akan memberi kita ‘hadiah’ kalau kita sabar. Yang perlu kita lakukan hanyalah melakoni saja episode ‘kedukaan’ itu dengan sebaik-baiknya. Artinya, tidak protes kepada Allah, tidak mengeluh, ikhlas menerima cobaan dan jadikan cobaan sebagai batu loncatan untuk menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Kalau demikian, artinya cobaan itu adalah momen penting untuk meningkatkan keimanan, karena Allah menghendaki kenaikan derajad keimanan kita melalui cobaan. Perbanyak minta ampunan karena bisa jadi, cobaan itu merupakan azab dan Dia ingin kita lebih bersih dari dosa. Apabila tidak melalui cobaan, aduhai alangkah beratnya langkah kita untuk bisa menggapai surga dan menghindar dari neraka hanya dengan bekal amalan yang ‘mepet’ itu saja kalau pahalanya masih ada karena kita masih sering menyebut-nyebut amalan kita sehingga boleh jadi tabungan pahala kita sudah tidak adalagi bagaikan kayu yang terbakar api.

Lebih lanjut saya katakan bahwa ada dua kemungkinan yang bisa terjadi dan apapun yang terjadi terimalah secara ihklas. Boleh jadi Ain akan berpisah dengan suami atau bisa jadi Ain akan meneruskan hubungan dengan suami. Saya katakan bahwa perceraian dibolehkan tetapi sangat dibenci Allah. Kalau bercerai, semestinya ia ingin anaknya yang masih kecil ia bawa padahal anak itu dalam kekuasaan suaminya sekarang ini. Sebenarnya masalahnya bukanlah masalah siapa yang ingin anak itu tinggal dengannya, tetapi adalah tempat mana yang terbaik bagi anak tersebut bisa pada ayah, ibu atau lainnya. Biasanya anak kecil sangat membutuhkan ibunya. Saya katakan bahwa anak yang masih sangat kecil seumur anak dia dalam mahkamah syariah nanti bisa jadi dipercayakan kepada dia dengan syarat tertentu. Syarat itu antara lain ibunya bisa menghidupi dan merawatnya secara lebih baik dari pihak yang lain karena mempunyai kemampuan secara materiil dan spiritual. Salah satu maknanya adalah ia mesti mempunyai penghasilan, sedangkan selama ini suaminya tidak pernah membolehkan dia bekerja. Perkara ini saya katakan supaya bisa dipertimbangkannya.

Kemungkinan lainnya adalah mempertahankan rumah tangga, saya fikir kalau ini bisa dilakukan akan lebih baik. Kalau dia memutuskan untuk bersama lagi dengan suaminya, maka harus siap untuk memperbaiki rumah tangga. Berembug secara baik-baik dengan suami bagaimana menyelesaikan kemelut dalam rumah tangga mereka itu. Salah satu yang penting adalah mulai memperbaiki diri dan suami, saya minta dia ajak suaminya untuk melaksanakan perintah agama dan tambah mendalami ilmu agama, jangan hanya masuk Islam sekedar untuk menikahi Ain kemudian tidak menjalankannya. Ini saya rasa sumber kekeliruan selama ini. Suami kurang mempelajari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah bagaimana bersikap sebagai pemimpin rumah tangga, bagaimana memperlakukan isteri dan anak. Semua telah ada petunjuknya dalam kalam Illahi dan sunnah rosul. Walau bagamanapun, keduanya pasti punyai andil dalam peristiwa tersebut.

Paginya, Ain memutuskan kembali ke rumah suaminya, saya dukung sepenuhnya dan saya antar dia sampai ke rumahnya. Sang suami juga telah mencari-cari dia dan memintanya pulang. Saya hanya berpesan, libatkan Allah dalam setiap langkah di kehidupan kita. Kembali pada Allah, ajak suami sama-sama menjalankan perintah dan larangan-Nya, nanti insyaAllah setelah kita berusaha mendekat pada-Nya dengan tekun, masalah akan terurai satu-persatu atas karunia-Nya. Bagaimana bisa demikian, sebenarnya sangat logis karena dengan mendekat pada-Nya dengan sangat tekun dan ihklas insyaAllah mereka akan mengalami transformasi menjadi hamba Allah yang lebih baik. Seorang hamba Allah yang baik tentunya akan selalu melangkah dengan pertimbangan agama yang akan memberi pengaruh indah bagi diri dan orang-orang di sekitarnya. Akhirnya, setiap masalah akan coba diselesaikan dengan cara baik-baik pula. Ia tidak lagi mengedepankan emosi, egoisitas diri lagi. Yang jadi pertimbangan dalam langkahnya nanti adalah ridho Allah. Inilah yang berperan dalam mengurai masalah-masalah tersebut.

Semoga kisah ini dapat menjadi iktibar bagi kita semua dalam menjalani hidup dengan masing-masing ujian.

No comments:

Post a Comment