Thursday, July 28, 2011

Ketika para suami memberi nafkah kepada isterinya

Dikisahkan seorang wanita yang merasakan kesedihan atas sikap suami yang setiap hari memberi uang belanja kepadanya sebesar ‘sekian’ walaupun gaji suaminya adalah bulanan. ‘Sekian’ di sini kira-kira cukup untuk belanja sayur dan lauk pauk dalam sehari. Ada pelajaran dari cerita kehidupan rumah tangga tersebut. Apa yang dirasakan wanita tersebut adalah perasaan kurang dipercaya, bahkan lebih lanjut ia merasa bagaikan pembantu saja. Akhirnya wanita itu menyatakan sikapnya bahwa ia tidak akan mau tahu, biarlah ia hanya mengelola uang itu saja, kalau suatu saat suami kesulitan ia tidak akan turut campur, biar kesulitan itu menjadi kesulitan suami saja. Benar, kala suami mengalami masalah dalam pekerjaannya, isteri tidak mau tahu dan akhirnya ketika suami sudah benar-benar tidak ada uang lagi, isteri pulang ke rumah orang tuanya. Aduh, ternyata sesuatu yang kelihatan sepele dapat menjadi masalah besar, walaupun kemungkinan besar juga ada perkara-perkara lain yang mendasari.

Pada masa Rasulullah, hal ini pernah terjadi dan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah rodiyallahu'anha: Hindun binti 'utbah berkata kepada Rasulullah:

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang rakus, dia tidak memberikan nafkah yang mencukupi kebutuhanku dan anak-anakku sehingga aku mengambilnya sendiri tanpa dia tahu." Rasulullah menjawab: "Ambilah (dari suamimu) secukupnya untukmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik. "

Walaupun tidak sama persis, namun peristiwa di masa Nabi SAW ini, terulang dan terulang lagi pada masa sekarang. Cerita kedua dari wanita yang baru menikah sekitar 2 tahun dengan suaminya. Ia mengatakan bahwa ada kecurigaan bahwa suaminya tidak memberikan semua gaji kepadanya, sebagian besar gaji suaminya diberikan kepada keluarga suami. Apa yang dia rasakan adalah ia merasa ditipu, suami tidak jujur kepadanya dan ia sangat kecewa. Saya mencoba untuk dapat memahami perasaan wanita-wanita tersebut. Sepertinya ada perkara-perkara yang mendasar yang perlu di perbaiki dalam rumah tangga tersebut. Rumah tangga mesti didasari rasa saling percaya. Isteri yang sholekhah akan sadar betul bahwa ia tidak hanya mempertanggungjawabkan kepercayaan itu pada suami namun juga kepada Allah SWT. Jadi kalau suami sholeh dan isteri sholekhah, percayai isteri sepenuhnya nanti isteri akan menjaga dengan penuh amanah kepercayaan tersebut.

Bandingkan dengan kisah wanita ketiga ini, Ia justru merasakan kesyukuran atas perlakuan suami yang menurutnya sangat baik. Ia telah memberikan gajinya secara baik dan ia slalu ucapkan syukur pada-Nya dan terima kasih pada suami. Akhirnya ia kelola uang itu dan ia tempatkan di tempat yang suami dan isteri sama-sama dapat mengakses. Suami dapat mencukupi kebutuhannya demikian pula isteri. Apa yang dirasakannya adalah perasaan dihargai, dipercaya, dan ia merasa bahagia. Justru dengan itu, ia semakin berusaha untuk menjaga dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab. Ia tidak memboros-boroskan uang, ia juga selalu berkomunikasi mengenai setiap perbelanjaan yang perlu dikomunikasikan. Suami juga tidak kehilangan kesempatan untuk membantu kerabat yang perlu dibantu, demikian juga isteri.

Dari ketiga kisah wanita ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Seorang suami mesti sadar benar bahwa ia dalam posisi mempunyai kewajiban untuk menafkahi isteri dan anak-anaknya secara baik sesuai dengan kemampuannya. Mari kita simak ayat-ayat al-Qur'an yang mendasari perkara ini.

وعلي المولود له رزقهن و كسوتهن بالمعروف ،لا تكلف نفس الا وسعها لا تضار والدة بولدها ولا مولود له بولده وعلي الوارث مثل ذلك.....الخ (البقرة : 233)

Artinya: Dan merupakan kewajiban seorang ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan secara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya. Dan warispun berkewajiban demikian. (QS. Al-Baqoroh : 233)

اسكنوهن من حيث سكنتم من وجدكم ولأ تضاروهن لتضيقوا عليهن (الطلأق:6 )-

Artinya : Tempatkanlah mereka (para Istrimu) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah di thalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.

Ada pula hadits mengenai kewajiban menafkahi istri, diceritakan oleh sahabat Jabir, rasulullah saw bersabda:

اتقواالله في النساء، فانهن عوان عندكم، أخذتموهن با مانة الله واستحللتم فروجهن بالمعروف بكلمة الله، ولهن عليكم رزقهن و كسوتهن

"Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita (istri-istrimu). Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rizki dan pakaian dari kalian"

- لينفق ذو سعة من سعته ومن قدر عليه رزقه فلينفق مما اتاه الله لأ يكلف الله نفسا الأ ما اتاها سيجعل الله بعد عسر يسرا (الطلا ق : 7)

Artinya: Hendaklah orang yang mampu, memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. at-Talaq : 7)

Jadi, apabila kita menyimak ayat-ayat Al Qur’an dan hadits di atas, jelas bahwa suami mempunyai kewajiban menafkahi isteri dan anaknya. Mengenai caranya mestilah disesuaikan dengan keadaan masing-masing rumah tangga, yang jelas secara ma’ruf. Kalau ada yang terkecewakan mestilah ada sesuatu yang perlu diperbaiki, dan ini memerlukan peran kedua belah pihak. Komunikasi juga sangat perlu tidak perlu takut dan khawatir isteri/suami tidak menyetujui kalau kita akan membantu kerabat. Membantu kerabat sangat dianjurkan dalam situasi yang memungkinkan, bahkan bisa menjadi sangat dianjurkan kala tertentu.

Hadits yang dapat dijadikan dasar kita memberi bantuan pada kerabat diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Miqdam bin mu'di. Mereka berkata: "aku mendengar rasulullah saw berkata: ‘sesungguhnya Allah mewasiatkan kamu untuk berbuat baik kepada ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian kepada kerabatmu’". Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh al-Hakim.

Apabila mendasarkan pada dalil ini, maka kita perlu menyadari bahwa setelah menikah dengan suami atau isteri, ada kerabat yang pada saat-saat tertentu memerlukan perhatian kita. Kita sebaiknya tidak menghalang suami/isteri memberi bantuan kepada mereka secara ma’ruf, keterbukaan mutlak diperlukan sepaya ini dapat berjalan lancar. Keperluan suami dalam memberi bantuan kepada kerabat adalah juga merupakan keperluan isteri, begitu pula sebaliknya. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment