Monday, July 18, 2011

Kikisan Cinta dan Perjuangan

Suatu hari di akhir tahun 2006, kutuliskan tanda cinta untuk suami:

Kita bertemu untuk saling mencinta
Kita berjuang untuk dapat bersama
Lembar demi lembar kehidupan kita lalui
Lembarannya penuh kenangan indah
Masa demi masa kita jalani
Masanya penuh kebahagiaan

Adakalanya duka menyelimuti kita
Cinta nan agung telah pun menyibaknya
Adakalanya perbezaan mengukir keretakan
Kasih nan agung telah pun menghapusnya

Hampir satu dekad sudah, tak terasa
Wajah-wajah mungil selalu mengusik kita
Tangan-tangan mungil selalu menarik kita
Mereka mempererat tali cinta kita
Mereka mempertebal dinding pemersatu cinta kita
Kebersamaan kita rahmat daripada-Nya
Kasih sayang kita datang daripada-Nya
Kesetiaan, kesabaran…
Subhanallah, sungguh masih terasa

Namun,
Terkesima kita mendengarnya
Tertegun kita melihatnya
Hancur hati kita membaca riwayat nan pilu
Apa yang mereka alami, apa yang mereka jalani
Ya Allah, mohon jangan Engkau timpakan juga kepada kami

Cinta sememangnya dapat terkikis
Cinta sememangnya dapat memudar
Kebersamaan pun dapat tersurai
Namun, sebelum itu, kita mesti…kita mesti…

Termenung aku memakan masa
Terdiam aku mencari jawaban daripadamu
Tersungkur aku mengharap jawaban daripadaNya
KepadaNya dan kepadamu aku mencari jawaban
Daripada Dia dan engkau jawaban pun akhirnya kuterima


Perjuangan! ya, kita mesti berjuang!
Sungguh, sepatah kata itu kini terngiang-ngiang
Kita mungkin lupa, kita mungkin tak ingat lagi
Kita telah berjuang untuk bersama
Kita pun mesti berjuang untuk…. tetap bersama
Semoga kikisan cinta tak terjadi pada kita

Kerana kita tlah berjuang


Selangor, 22 September 2006.
Kupersembahkan puisi ini untuk suami tercinta
sempena hari jadi perkahwinan 6 September (1998-2006),
terima kasih atas perjuangannya. Diikutkan dalam lomba puisi resisita UKM, Malaysia, 2006.

Namun, perjuangan ini telah berakhir 24 Mac 2011 ketika Yang Maha Memiliki telah mengambil kembali suami keharibaan-Nya. Alhamdulillah perpisahan ini adalah perpisahan yang indah walaupun diiringi air mata, namun kami berpisah dalam keadaan saling mencinta dan saling setia sejak menikah sampai akhir hayat suami.
Kami berpisah insyaAllah dengan penuh keikhlasan mengharap ridho-Nya.. Hancurnya hati karena perpisahan ini tidak ada ertinya berbanding harapan akan datangnya janji Allah SWT kepada orang-orang mukmin yang sabar ketika ditimpa musibah. Kepada-Nya hamba ini memohon kesabaran yang tak terbatas...

Ketika kutulis puisi kala itu, sebenarnya hati resah dengan berita-berita di banyak media perkabaran mengenai zina, perselingkuhan, pertelingkangan suami isteri dalam rumah tangga, dan yang setipe dengannya. Bahkan ketika masih duduk dibangku SMP, saya dan teman-teman pun merasa sedih dan geram tapi tidak dapat berbuat apa-apa ketika dua orang pegawai di sekolah telah berselingkuh walaupun telah disidang kepala sekolah. Sungguh tidak pantas mereka yang sudah dewasa melakukan hal tersebut karena seharusnya memberi contoh yang baik kepada kami anak-anak SMP. Alhamdulillah, walaupun masih muda,saat itu kami tahu itu adalah contoh yang buruk dan berita-berita itu tetap tidak menjadikan kami menganggap itu hal biasa di jaman yang semakin modern ini. Bagi saya dan teman-teman saya kala itu, perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa dan sangat memalukan.

Ketika saya beranjak dewasa (dan menua tentunya) berita-berita zina masih saja bersliweran di koran-koran, internet, bahkan dalam perkembangan selanjutnya muncul VCD-VCD porno dan akhirnya video-video porno tersebut tidak hanya berbentuk VCD namun di upload ke internet yang dapat diakses dengan mudah bahkan lewat HP. Sangat miris melihat perkembangan ini. Seakan-akan memberi pesan bahwa hal tersebut adalah biasa dilakukan. Apabila saya perhatikan, secara umum ada 2 golongan besar perzinaan. Pertama, perzinaan yang pelakunya memang belum berumah tangga, misalnya remaja yang pacaran, atau remaja yang terinspirasi melakukan perbuatan terlarang setelah melihat video porno. Kedua, perzinaan yang dilakukan oleh orang yang telah berumah tangga. Jadi ingat apa yang telah tertulis dalam kalam Illahi mengenai hukuman bagi pelaku zina, Allah telah membedakan antara orang yang telah menikah dengan yang belum menikah.

Kelompok kedua inilah sumber kerisauan saya sehingga tercipta puisi di atas. Saya benar-benar risau dengan hati manusia yang tidak atau kurang bersyukur, bersabar dengan apa yang telah dimiliki (sebenarnya dipinjami saja oleh-Nya) yaitu berupa keluarga (suami/isteri dan anak). Suatu saat muncul dengan begitu mudahnya kata-kata "aku sudah tidak mencintaimu lagi" untuk membenarkan dirinya berselingkuh dengan lelaki lain atau wanita lain. Sungguh, orang-orang seperti ini kurang pantas menjadi contoh bagi anak-anaknya. Ia tidak ingat noda dan cerita perselingkuhan tersebut akan begitu cepat menyebar secara vertikal dan horisontal (pada anak cucu cicit maupun lingkungan sekarang yaitu masyarakat, teman kerja) Masih mending hanya cerita, sekarang tidak hanya cerita namun juga gambar ketika perselingkungan terjadipun sukar dibendung penyebarannya (internet). Dan yang lebih menakutkan adalah besarnya dosa dan pedihnya hukuman dari Allah SWT.

Saya berfikir, apa yang menjadi punca semua ini berlaku. Agama, tentunya nomer satu karena keimanan dan kuatnya ketaqwaan kepada Allah SWT akan terpancar pada akhlaknya. Keimanan baik, ilmu menguasai dan diamalkan, akhlak pun menjadi baik. Orang-orang berilmu, beriman, bertaqwa dan berakhlak baik ini insyaAllah akan selalu bertarung dengan nafsu dan bisikan syetan dalam rangka menghindar dari perbuatan tercela.

Setelah itu saya pun berfikir apa penyebab yang spesifik..
Membiarkan diri mudah tergoda tanpa berjuang untuk menolak/membentengi diri.
Orang yang telah berumah tangga sebagian menganggap apa yang telah "dimiliki" adalah sudah biasa, sehingga akan merasa senang dengan hal-hal baru. Ini yang dalam agama disebut dengan kurang mensyukuri. Apabila seseorang mensyukuri apa yang dimiliki dengan kesyukuran yang baik, maka ia akan melakukan hal-hal yang mendukung kearah utuhnya rumah tangga. Misalnya, memupuk cinta dengan suami atau isterinya bukan malah menebar cinta dengan lain orang. Usaha-usaha dalam rangka mensyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh Allah inilah, yang saya sebut dalam puisi di atas sebagai perjuangan. Memupuk cinta kita sendiri kepada suami/isteri adalah sesuatu yang patut diperjuangkan. Menyuburkan rasa sayang diri kita kepada pasangan adalah kewajiban, jangan dengan mudahnya mengatakan "sudah tidak cinta" padahal belum berjuang, baru digoda dengan sedikit senyuman sudah berpaling, baru diberi perhatian seseorang sudah tergoda, baru berpisah sebentar saja sudah dekat dengan orang lain. Tidak dipungkiri nafsu dan bisikan syetan memang sangat kuat menarik pada kesesatan kala penggodaan tersebut. Tapi takutlah pada Allah, Allah ada di mana kita berada (selain itu hp orang ada di mana-mana siap merekam perbuatan amoral dan siap diapload ke dunia maya). Tetap, ketaatan pada perintah dan larangan dari Allah SWT menjadi senjata kita berjuang melawan nafsu...

No comments:

Post a Comment