Friday, July 22, 2011

Rasa Sakit Ketika Melahirkan adalah Salah Satu Bukti Cinta-Nya



Suatu pagi di bulan Desember 2007, seorang bayi mungil telah lahir ke dunia. Ia telah disambut dengan suka cita oleh bapak ibu dan kedua kakaknya. Di ruang persalinan, ayah bayi tersebut ikut menjadi saksi kelahirannya. Dengan penuh empati ia memegang tangan isterinya ketika isteri sedang merasakan sakit yang luar biasa. Lima menit sebelumnya di tempat tidur itu pula telah terlahir bayi lain dengan suasana yang lain. Suasana yang dimaksudkan disini terutama adalah sikap ibunya ketika merasakan sakit yang datang secara periodik atau kontraksi.

Pada kelahiran yang kebetulan ditunggui ayah bayi sebutlah ibu kedua, si ibu tidak terlalu banyak mengaduh apalagi berteriak. Ia menghela nafas panjang dari hidungnya dan mengeluarkannya perlahan-lahan dari mulutnya apabila rasa sakit datang. Dalam hatinya, ia berzikir seakan-akan tidak ada kesempatan lain karena ini bisa jadi merupakan akhir hidupnya. Ketika sakit datang pula, selain berzikir ia juga berbisik dalam hati kepada bayinya, ‘ayo nak, kita berjuang bersama-sama supaya kamu dapat lahir dengan selamat’. Sedangkan pada kelahiran sebelumnya atau ibu pertama, si ibu sebelum dan selama proses melahirkan melampiaskan kesakitan ketika kontraksi dengan sikap yang akhirnya menguras energi yang sesungguhnya mesti dihemat dan digunakan saat yang tepat yaitu saat mau mengeluarkan bayi.

Kedua ibu akhirnya telah melahirkan dengan selamat, walaupun ibu yang pertama sempat mau dioperasi karena pada saat-saat genting bayi mau keluar, dia kehabisan energi, namun masih dapat diatasi. Kedua ibu telah berjuang dengan sepenuh hati dan penuh pengorbanan mensyukuri kodrat illahi sebagai seorang wanita, yaitu melahirkan. Akhirnya, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan ibu pertama. Ia bercerita bahwa, ini anak yang kelima, setiap kali melahirkan ia memang seperti itu, saya pun tersenyum mendengar ceritanya. Ia juga mengatakan bahwa ibunya yang menungguinya sempat berkata, ‘kalau kamu masih berteriak-teriak, nanti ibu pulang karena ibu malu.’ Kami pun tertawa geli karena ceritanya. Selain itu sekitar satu jam menjelang kelahiran, ia jalan keliling rumah sakit karena kalau diam dia tidak tahan. Mungkin ini yang telah menguras energi yang diperlukan saat proses kelahiran.

Sebenarnya, kesakitan menjelang dan pada waktu proses melahirkan adalah wajar dan merupakan karunia-Nya. Ini juga bukti cinta Allah SWT kepada manusia. Si ibu kedua justru merasa diberi peluang untuk merasakan benar bahwa kesakitan pada waktu kontraksi itu sesuatu yang ditunggu-tunggu. Pukul 11 malam ia datang ke rumah sakit karena ada bercak-bercak yang bisa jadi merupakan salah satu tanda akan melahirkan. Namun demikian, ia belum merasakan sakit sama sekali. Pada waktu itu sudah pembukaan 2 dan ia diharuskan menginap dirumah sakit. Ia ingin melahirkan secara normal, dan dalam proses kelahiran ini proses kontraksi adalah penting. Apa yang ada dalam benaknya adalah harapan datangnya kontraksi ini, sepanjang malam, ia menunggu-nunggu. Menjelang pagi, mulai ada sedikt rasa sakit dalam periode yang masih panjang, tersenyumlah ia karena rasa sakit telah datang. Semakin lama semakin jelas terasa mulai dari setiap seperempat jam dan menjelang jam 10 pagi sakit datang setiap 5 menit sekali. Beberapa hal yang difikirkannya mengenai kontraksi ini adalah beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, rasa sakit yang terjadi karena kontraksi ini disebabkan bayi sedang mendorong sambil berusaha membuka jalan keluar. Tentulah sakit, karena kepala dan badan bayi yang jauh lebih besar dibandingkan jalan keluar yang akhirnya membesar ditembus bayi tersebut. Jadi bukankah rasa sakit itu wajar, kalau kelahiran normal pasti akan mengalaminya.

Kedua, Ketika bayi berusaha mencari jalan keluar dan ketika itu pula ibu merasakan sakit, apabila ia tidak menerima rasa sakit itu,secara tidak langsung atau tidak sadar ibu tidak menolong atau mendukung bayi yang ketika itu sedang berjuang. Jadi, ikuti saja iramanya dan ikut berjuang bersama-sama dengan bayi. Caranya bagaimana, pertama syukuri rasa sakit itu, keluhan tidak berguna. Kedua, hanya melakukan hal-hal yang mendukung bayi untuk keluar kalau perlu senyumlah kalau bisa kalau tidak bisa tidak apa, zikir dan bisikkan pada bayi yang intinya ibu juga mendukungmu, ibu juga sama-sama berjuang denganmu. Tarik nafas panjang dari hidung dan keluarkan perlahan-lahan dari mulut, dilakukan ketika datang rasa sakit. Yakinlah bahwa rasa sakit itu datang dari Allah karena cinta.

No comments:

Post a Comment