Sunday, November 20, 2011

Ibu, jangan marahkan Athifah ya…

Dengan logat melayunya yang sebentar saja sudah hilang kalau pulang ke Yogya dan sebentar muncul lagi bila sudah di Kuala Lumpur, Athifah selalu buru-buru mengatakan ‘Ibu, jangan marahkan Athifah ya..’ setiap ia merusakkan atau memecahkan sesuatu barang. Ibunya pun tidak bisa menahan senyum kalau Athifah sudah begitu, mana mungkin marah melihat wajah kecil yang polos merayu dan memelas minta ibunya jangan marah.

Saya teringat pesan almarhum bapaknya Athifah yang selalu mengingatkan bahwa ‘tidak ada orang yang mau dimarahi.’ Maknanya, tidak besar tidak kecil, tidak kaya tidak miskin, tidak laki-laki tidak juga perempuan, semua tidak ada yang suka dimarahi. Isteri tidak pantas memarahi suaminya, suami pun tidak baik memarahi isterinya, demikian juga selaku orang tua tidak selayaknya memarahi anak-anaknya, atau juga guru kepada anak didiknya. Yang ada adalah memberitahu atau menasehati serta mengarahkan sehingga tidak mengulang perbuatan yang kurang baik dan memperbaikinya di masa yang akan datang. Caranya pun sudah semestinya dengan sopan santun dan penuh kasih sayang.

Sebenarnya, kita mesti bersyukur dengan adanya peristiwa-peristiwa yang memancing kemarahan. Mengapa demikian, coba kita perhatikan sabda Rasul berikut. Abu Umamah Albahili ra. berkata Nabi Muhammad saw bersabda: "Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah SWT mengisi hatinya dengan keredhaan pada hari kiamat." Tentunya kita berbahagia bila mendapatkan keredhaan dari Allah SWT hari kiamat, pada hari dimana kita sangat membutuhkan perlindungan dan tidak ada perlindungan selain dari-Nya.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah pun menyatakan penghargaan yang akan diberikan Allah terhadap orang yang menahan amarahnya, "barang siapa yg menahan marah sedangkan dia mampu melepaskan marahnya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di depan sekalian makhluk sehingga Allah memberinya pilihan untuk dia memilih bidadari" HR. Ahmad, Abu Daud & At-Tirmidzi. Juga dalam hadits ini, "tidak ada seseorang hamba menahan marah karena Allah ta'ala melainkan Allah akan memenuhinya dgn keamanan dan keimanan" HR. Abu Daud. Demikian juga sabda Rasulullah yang lainnya, ‘Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah’ HR. Malik. Sungguh kita akan beruntung bila bisa termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat penghargaan ini. Oleh karena itu apabila ada pemicu kemarahan, kita justru mesti bersyukur karena beruntung mendapatkan kesempatan untuk meraih penghargaan dari-Nya. Dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan kita tinggal mengikuti apa yang dituntunkan oleh Rasul sehingga kita bisa menahan dan mengendalikan amarah dan termasuk dalam jajaran orang-orang kuat serta diredhai Allah SWT. Berterimakasihlah kepada orang-orang yang telah memancing kemarahan serta maafkanlah ia.

Lalu bagaimana tuntunan agama mengelola kemarahan ini. Rasulullah telah banyak memberikan nasehatnya. Al Qur’an pun telah banyak memberi petunjuk bagi kita. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan lakukan kala ada sesuatu yang kemungkinan bisa membangkitkan amarah adalah sebagai berikut.

· Sadar betul bahwa kita sedang dinilai, Allah mengawasi, malaikat di sekitar kita siap mencatat segala sesuatu yang kita lakukan dan niatkan. Oleh karena itu kita perlu diam sejenak serta meminta perlindungan dari-Nya dari bisikan syetan dengan membaca ta’awwudz. "sesungguhnya aku mengetahui satu kalimah kalaulah kalimah tersebut diucapkan oleh orang yg marah itu niscaya akan hilang kemarahannya yaitu aku berlindung kepada Allah Ta'ala dari syetan yg dirajam" (HR Bukhari dan Muslim)
Pada saat itu kita harus benar-benar sadar bahwa kalau kita sabar, malaikat akan terus bersama kita sedangkan bila kita terpancing untuk marah maka syetanlah yang dekat dan menguasai kita. Ingat kisah ini Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abu hurairah r.a. berkata: "Ada seorang memaki Abu Bakar Assisiq r.a. sedang Nabi Muhammad saw duduk, maka Nabi Muhammad saw. diam. Abu bakar menjawab, maka segera Nabi Muhammad saw bangun dari tempatnya, maka dikejar oleh Abu Bakar sambil berkata: "Ya Rasulullah, dia maki-maki saya dan engkau diam, ketika saya jawab, tiba-tiba engkau bangun pergi?" Jawab Nabi Muhammad saw.: "Sesungguhnya Malaikat telah mengembalikan semua makian orang itu kepadanya ketika engkau diam dan ketika engkau menjawab makian, maka pergilah Malaikat itu dan duduk syetan laknatullah, maka saya tidak suka duduk ditempat duduk bersama syetan laknatullah."

· Mengubah posisi, wudlu dan sholat. Yang menjadi dalilnya adalah sebagai berikut. Nabi saw bersabda maksudnya: "apabila seseorang kamu marah dalam keadaan berdiri hendaklah dia duduk, jika masih tidak hilang kemarahannya hendaklah dia berbaring.. " HR. Ahmad & Abu Daud. Kemudian dalil yang berhubungan dengan wudlu adalah, "sesungguhnya kemarahan adalah dari syetan dan syetan dicipta daripada api, apabila salah seorang kamu marah maka hendaklah dia berwudlu" HR. Ahmad & Abu Daud. "Ketahuilah sesungguhnya kemarahan adalah bara yg menyala di dalam hati anak adam" HR. Ahmad & Tarmidzi. Setelah itu sholat berdasarkan sabda Rasulullah saw, ‘Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).’ HR Tirmidzi.

Athifah kecil yang masih belum genap 4 tahun umurnya pun telah menyampaikan pesan bahwa dia tidak suka dimarahi, demikian juga orang-orang yang lebih besar, misalnya teman-teman kita, anak didik, kakak adik kita, bawahan, pembantu, pegawai, dan lainnya. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa dapat menahan amarah.

No comments:

Post a Comment