Wednesday, November 16, 2011

Makna disebalik umur 40 tahun


Suatu hari, beberapa bulan sebelum suami meninggal, saya berbincang dengan beliau mengenai hadits qudsi yang menyebut umur 40 tahun. Kami berusaha untuk mengkaji makna hadits tersebut mengapa 40 disebut dan apa pesan bagi kita selaku hamba-Nya. Tidak disangka Allah akan mengambil kembali suami kala usia tepat menjelang 40 tahun. Setelah beliau meninggal, saya kembali merenung-renung angka 40 tahun ini. Bagi saya ini bukan sekedar angka, umur 40 tahun merupakan umur istimewa sehingga Allah menyebutnya. Ketika Allah swt menyebut sesuatu di dalam ayat-ayat-Nya, tentu ada yang sangat penting atau perlu diperhatikan terhadap sesuatu tersebut. 


Dari apa yang saya fahami sekilas mengenai hadits qudsi tersebut, Allah memberikan pesannya berkaitan dengan perlakuan Allah terhadap orang-orang beriman yang sesuai dengan tahapan umurnya ketika menghadap-Nya, tentunya untuk hamba-hamba yang selalu beramal sholeh. Maknanya, firman Allah ini ada kaitannya dengan kesiapan hamba untuk menghadap kembali pada-Nya sehingga pesan yang tersirat adalah seberapa siapkan kita untuk sewaktu-waktu dipanggil kembali. Umur 40 tahun disebut pertama kali dan bukan dimulakan dengan umur 50, 55 tahun atau yang lainnya. Jadi mengandung makna bahwa umur 40 tahun adalah umur penuh dengan kewaspadaan tinggi, ini umur yang orang perlu segera bergegas menghampiri Allah bila selama ini kurang dekat, atau bergegas bertaubat dan berusaha membersihkan diri dari dosa-dosa. Intinya muhasabah demi perbaikan diri sesegera mungkin karena ajal sudah didepan mata. Hadits qudsi yang saya bincangkan dengan suami adalah sebagai berikut. 


Nabi saw bersabda, Allah berfirman, yang artinya: ‘Jika hamba-Ku telah mencapai usia 40 tahun, Aku akan jauhkan dia dari 3 macam bencana, iaitu gila, kusta dan sopak/vitiligo. Dan jika dia mencapai usia 50 tahun, Aku akan menghisabnya dengan hisab yang ringan. Dan jika dia mencapai usia 60 tahun, Aku akan mendorong supaya suka bertaubat. Dan jika dia mencapai usia 70 tahun, Aku akan menjadikan dicintai oleh para Malaikat. Dan jika dia mencapai usia 80 tahun, Aku hanya akan mencatat kebajikannya saja, dan Aku akan tutup mata terhadap kesalahan-kesalahannya. Dan jika dia mencapai usia 90 tahun, akan berkatalah para Malaikat: Orang ini sebagai tawanan Allah di buminya, maka diampuni segala dosanya yang terdahulu dan yang kemudian, dan dibenarkannya mensyafaatkan. Dan jika dia mencapai usia terlalu tua, Allah mencatat baginya semua pahala amalan yang pernah dia lakukan di waktu sehat dahulu, dan kalau dia melakukan kesalahan, tiadalah dicatatkan atasnya lagi.’ HR. Tarmizi.


Rasulullah saw pun bersabda, seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi. HR. Ahmad. 


Makna yang terkandung disebalik umur 40 tahun yang disebut sebagai permulaan umur kewaspadaan dalam hadits ini adalah sebagai berikut;


1. Ketika seseorang mencapai umur 40 tahun setelah tahun-tahun yang dilaluinya dalam keislaman, dalam ketaqwaan, maka dapat dianggap dia terpercaya dalam menggenggam Islam sebagai jalan keagamaannya. Dalam perjalanan kehidupannya, seseorang tersebut telah mengalami perjuangan yang penuh dengan rintangan-rintangan, namun tetap konsisten dengan pilihannya dan teguh menjalankan yang disyariatkan. Oleh karena itu sebagai wujud kasih sayang-Nya, Allah swt akan meringankan hisabnya. 


2. Ketika seseorang menjelang atau mencapai umur 40 tahun, saat itu juga harus sangat-sangat waspada. Kubur sudah menanti, malaikat izrail pun sudah bersiap-siap mengambil nyawa kita. Bekal harus diperhitungkan apakah cukup ataukah kurang atau bahkan belum ada karena lebih banyak kejahatan dilakukan. Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak lebih banyak dari amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.” Sahabat Qotadah, tokoh generasi tabiin, berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia perlu berhati-hati dalam urusan dengan Allah ‘azza wa jalla.”


3. Umur 40 tahun pada umumnya merupakan saat orang mulai matang dan mapan secara mental maupun material. Justru itu yang harus diwaspadai, kemapanan pemikiran, kemapanan materi apabila diikuti dengan kuatnya ketahanan religi, akan berdampak positif bagi diri dan orang lain. Akan membawa keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akherat bagi diri dan orang-orang yang dipengaruhinya. Ini adalah tipe pertama. Namun ada tipe kedua, yang sangat mengkhawatirkan adalah apabila berlaku sebaliknya. Saat orang telah mapan lengkap dengan segala kekuasaannya namun tidak kuat dalam memikul tanggungjawab moral dan tanggungjawab keagamaan justru akan menimbulkan kerusakan. 


Rasulullah merupakan teladan terbaik dan contoh untuk yang tipe pertama, kita simak kisah ini. Al-Wahidi meriwayatkan dari Ibn Abbas, katanya: Abu Bakar al-Siddik ra. bersahabat dengan Rasululllah saw ketika umurnya 18 tahun dan Rasulullah saw berumur 20 tahun. Mereka menuju ke Syam untuk berdagang. Mereka singgah di satu tempat yang terdapat sebuah pohon. Rasulullah saw duduk berteduh di bawah pohon tersebut. Abu Bakar menghampiri seorang rahib di sana menanyakan mengenai agama. Rahib bertanya kepada Abu Bakar: ‘Siapakah lelaki yang berteduh di bawah pohon itu?’ Jawab Abu Bakar: ‘Itulah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib.’ Rahib berkata: ‘Orang ini demi Allah ialah seorang Nabi. Tidak ada seorang yang berteduh di bawahnya setelah Isa bin Maryam selain Muhammad Rasulullah.’ Lalu lahir keyakinan dan membenarkan kenabian tersebut dalam hati Abu Bakar. Setelah itu, Abu Bakar tidak pernah meninggalkan Rasulullah saw ketika musafir atau di Mekah. Ketika beliau baginda dilantik menjadi Nabi, umurnya 40 tahun dan Abu Bakar berumur 38 tahun. Beliau masuk Islam dan membenarkan Rasulullah saw. 


Ketika umur Abu Bakar 40 tahun, beliau berkata: ‘Wahai Tuhanku! Ilhamkan kepadaku supaya aku mensyukuri nikmatMu yang Engkau kurniakan kepadaku..’ (AsbabunNuzul, alWahidi al-Naisaburi). Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. ”Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang sholeh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Al-Ahqâf: 15).


Dalam hal ini pada umur 40 tahun, Rasulullah telah mencapai puncak kehidupan baik dari segi fisik, emosi, intelektual, dan dari segi spiritual. Sebagai teladan bagi umatnya, Rasul telah menunjukkan bahwa pada umur tersebut keadaan seseorang semestinya telah mapan karena sepenuhnya telah meninggalkan umur muda dan mulai memasuki usia dewasa. Dalam keadaan diri beserta kemampuan serta pengaruhnya, mencontoh Rasulullah, orang kala usia tersebut sudah seharusnya telah wujud menjadi pribadi yang patut menjadi teladan dan berpengaruh secara baik bagi lingkungannya baik lingkungan terkecil maupun lingkungan secara luas. Satu lagi, ia seharusnya sudah siap dipanggil menghadap-Nya.


Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment