Friday, November 25, 2011

Menghadapi si kecil yang menangis dan marah-marah

Adakalanya si kecil yang menangis cepat reda tangisannya, setelah kita bujuk dan arahkan perhatiannya pada hal lain yang bisa membuat dia lupa apa yang dia tangiskan. Hal ini tentunya melegakan orangtua atau pengasuhnya apalagi saat ada di keramaian. Namun demikian, pada saat–saat tertentu boleh jadi tangisan dan kemarahan anak sangat sukar untuk diredakan. Ketika ini terjadi sebenarnya kita tidak hanya sedang menghadapi anak tapi juga sedang mengelola emosi diri. Ketika si kecil marah, kita semestinya tidak ikut terpancing untuk marah pula, apalagi bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak baik dan kasar pada anak. Hal lain yang perlu dihindari adalah melakukan sentuhan keras secara fisik misalnya memukul, mencubit.

Selain sakit secara fisik pada anak karena dicubit, hatinya pun sakit walaupun ia anak kecil. Sebagai catatan, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan anak adalah seumuran anak balita yang belum terlalu mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga pemukulan sangat tidak dibenarkan. Pukulan yang dibolehkan setelah umur 10 tahun yang tersebut dalam hadits “Perintahkanlah anak untuk sholat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud) itu pun mempunyai penjelasan yang detil dan ada adabnya sehingga tidak sembarang pukul apalagi sebetulnya hanya sebagai pelampiasan pelepasan emosi orang tua.

Kita seharusnya perlu berfikir panjang bahwa peristiwa marahnya anak-anak ini tidak bakal berterusan, pasti akan berakhir. Setelah berakhir dan anak reda, coba kita bandingkan antara kita cubit atau dengan kata-kata kasar dengan jika kita tetap tenang, tentunya hal ini akan berpengaruh pada anak serta diri kita. Apalagi jika ini sering terjadi, dan berlakunya dalam rentang masa yang panjang selama anak dalam pengasuhan. Karakter anak sedikit banyak dipengaruhi pula oleh cara pengasuhan kita ini. Kita pun akan jadi pribadi yang lemah lembut bila kita memang selalu berlemah lembut bahkan pada keadaan yang sangat memancing emosi kemarahan.

Bukan merupakan kebanggaan bisa menjadi pribadi yang keras dan suka marah pada anak, namun justru merupakan keutamaan menjadi pribadi yang halus pada siapa saja termasuk pada anak kecil. Ibnu Khaldun pernah mengatakan ‘Bila suatu satu hukuman dilaksanakan, ia akan menghapus keteguhan jiwa seseorang. Hal ini disebabkan penderaan akan membangkitkan rasa hina dalam diri yang didera sehingga keteguhannya hancur. Bila hukuman ini digunakan dalam pendidikan dan diterapkan sejak kecil, anak-anak akan tumbuh dengan ketakutan dan senantiasa patuh, akhirnya hilang percaya dirinya.’ [Ibn Khaldun, Mukadimah; 90].

Tidak perlu khawatir anak tidak takut pada kita, bukan ketakutan anak pada kita yang kita inginkan tetapi penghormatan dan kasih sayang mereka pada kitalah yang sangat kita harapkan. Hal ini bisa dicapai tidak dengan cara keras, namun dengan cara santun, lembut dan penuh dengan kasih sayang. “Maka karena rahmat Allah-lah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kaku dan keras hati, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159). “Hendaklah engkau bersikap lembut. Karena tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti memperindahnya. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu, kecuali pasti memperjeleknya.” (HR. Muslim). “Barangsiapa yang terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang dari kebaikan.” (HR. Muslim). Kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah memberikan pada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan dan apa yang tidak Dia berikan pada yang lainnya.” (HR. Muslim).

Saat si kecil marah-marah, boleh jadi ia akan mengekspresikan kemarahannya dengan hal-hal yang dapat membuat kita tidak berkenan. Terkadang si kecil memukul badan dan wajah kita berulang-ulang, melempar barang atau merusakkannya, menangis keras-keras dan menjerit-jerit. Tangisan keras dan jeritan inilah yang kadang membuat kita sungkan pada orang dan buru-buru ingin membuat anak diam. Namun tidak setiap tangisan dapat didiamkan/diredakan dengan cepat. Sudah semestinya kita menata hati untuk siap menghadapi tangisan dan kemarahan yang agak lama.

Namun demikian, selama ini anak akan kelelahan sendiri apabila sudah lama menangis misalnya ¼ atau ½ jam. Walaupun ¼ atau ½ jam bagi kita terasa sangat lama dalam kondisi yang demikian. Namun ketenangan tetap dibutuhkan. Kalau perlu senyumlah, ada banyak malaikat memperhatikan kita siap mencatat setiap reaksi kita. Kesabaran dalam kondisi ini akan membawa keberuntungan bagi kita dan anak, bahkan Allah telah menyiapkan pahala yang berlipat ganda, insyaAllah. Berdo’a memohon pada-Nya untuk melunakkan hati si kecil dan memberikan kesabaran pada kita patut kita lakukan saat-saat seperti itu.

Dalam beberapa saat, insyaAllah si kecil akan mulai melunak dengan tanda sudah mulai mau digendong, diberi minum/makan. Bila demikian, biasanya kemarahan sudah mereda. Tidak jarang setelah dia lega, bisa jadi akan ceria lagi seperti biasa atau tertidur karena lelah. Ketika melihat si kecil terlelap dengan wajah polos tanpa dosa, barulah kita menyadari benar bahwa dia masih belum faham benar apa yang telah dilakukannya, dan alangkah kurang terpujinya apabila sesaat sebelumnya kita marah padanya.

No comments:

Post a Comment