Sunday, November 13, 2011

Nasehat Rasulullah SAW mengenai ipar

Almarhumah nenek saya pada masa hidupnya pernah mengingatkan famili yang menempatkan adik ipar perempuan bersama dalam rumah tangga kakak perempuannya. Subhanallah, nasehat nenek itu adalah betul walaupun mendapat kecaman dari berbagai pihak. Beberapa alasan yang sering dipakai hingga ipar tinggal bersama dalam rumah tangga saudaranya adalah;

1. Tinggal sementara untuk kerja atau belajar dengan maksud menghemat pengeluaran.

2. Membantu keluarga saudaranya karena masih menganggur.

3. Rumah tangga saudaranya tidak punya pembantu, perlu bantuan.

4. Dan segudang alasan yang bisa diciptakan.

Hal yang mengkhawatirkan terjadinya zina dalam kondisi semacam ini adalah karena;

1. Tidak mengundang kecurigaan karena mereka keluarga, padahal sebenarnya saudara ipar bukanlah mahram. Karena itu, saudara ipar tidak boleh berdua-duaan dalam satu tempat dengan suami kakaknya atau istri kakaknya. Pada suatu ketika dapat dipastikan akan terjadi suasana sepi berdua karena saudara kandungnya sedang pergi dan yang tinggal adalah iparnya. Kalau berdua, yang ketiga bisa dipastikan adalah syetan.

Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan adalah orang yang ketiga.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

2. Perasaan aman membuat memungkinkan makin besarnya kemungkinan terjadi perzinaan.

Kalau benar-benar terjadi perzinaan, bencana besar bagi kedua orang yang berzina tersebut serta berimpak sangat buruk bagi keluarganya. Masalah demi masalah akan timbul. Islam mengharamkan menikahi dua orang wanita kakak-beradik. Allah menyebutkan beberapa orang yang tidak boleh dinikahi dalam surat an-Nisa salah satunya adalah dua perempuan bersaudara,

“(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara…” (QS. an-Nisa: 23)

Dari firman-Nya ini jelaslah bahwa tidak boleh menikahi dua wanita bersaudara. Namun diperbolehkan hanya bila telah menceraikan istri dan telah selesai masa iddah atau istri meninggal dunia. Saudara disini selain saudara kandung juga bermakna saudara sepersusuan.

Pesan Rasulullah saw yang perlu ditaati betul-betul adalah, “Janganlah kalian memasuki tempat kediaman wanita”. Ketika itu sahabat anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan saudara ipar? Beliau menjawab, “Saudara ipar itu kematian.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kematian disini mengandung makna bahwa bencana yang besar akan mengancam seseorang yang tinggal bersama saudara iparnya, bencana yang sebenarnya dapat dihindari kalau kita tidak menganggap remeh masalah ini.

Jadi, bagaimana sikap kita terhadap nasehat Rasulullah saw ini, tidak ada cara lain kecuali kita dengar, dan kita patuh.

No comments:

Post a Comment