Sunday, November 20, 2011

Tidak menyampaikan suatu ucapan, kecuali yang baik

Sungguh merupakan suatu kebahagiaan saat berada dekat dengan orang-orang sholeh, yang selalu berusaha untuk melakukan tindakan terbaik sesuai dengan tuntunan agama. Sikap mereka tawadhu jauh dari angkuh dan sombong. Perkataan mereka penuh dengan hikmah, merekapun berhati-hati sekali dalam berkata-kata. Dasarnya adalah kemanfaatan, setiap kata yang diucapkan ditujukan untuk memberikan manfaat serta perkataan yang mendekatkkan diri pada Allah SWT bagi yang mendengarkannya. Jauh dari perkataan yang menyakitkan atau melukai perasaan orang lain. Kita semestinya mengikuti apa yang telah mereka contohkan. Teladan terbaik yang dapat dijadikan rujukan bersikap dan berkata-kata terutama adalah Rasulullah saw, para sahabat dan salafushalih.

Merenungi kembali kalamullah dibawah ini, salah satu keadaan di syurga seperti yang digambarkan oleh-Nya menunjukkan bahwa memang merupakan kenikmatan kala tidak mendengar kata-kata yang tidak berguna. ‘Di sana [mereka] tidak mendengarkan perkataan yang tidak berguna’ (Al-Ghasyiah, 88: 11). Namun, selagi berada di alam yang fana ini, kita memang masih akan sering menemui kata-kata yang kurang pada tempatnya, walaupun demikian semoga kita dilindungi dari menjadi sumber keluarnya perkataan tersebut. Memang perlu perjuangan untuk itu, namun insyaAllah dengan mengingat-ingat ayat ini kita dapat berusaha menjaga perkataan. Allah berfirman: "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qâf, 50: 18). Dengan senantiasa mengingatkan diri bahwa setiap kata tercatat dan akan dipertanggungjawabkan, semoga menjadikan diri lebih hati-hati. Rasulullah telah memberikan teladan dengan hanya mengucapakan kata-kata yang mengandung dzikrullah. Beliau bersabda: "Janganlah kalian banyak berkata-kata kecuali perkataan yang mengandung dzikrullah, karena banyak berkata-kata yang tidak mengandung dzikrullah akan membuat hati membatu, sedangkan sejauh-jauhnya manusia adalah orang yang keras hatinya.” HR. Tirmidzi.

Perkataan yang perlu dihindari misalnya mengandung ghibah, namimah, apalagi fitnah dan perkataan yang mengandung maksud sombong, riya’, penghinaan dan yang sejenis dengannya karena ini semua adalah perkataan yang bathil. Kata-kata yang mengandung hal-hal tersebut di atas tidak akan membawa ketenangan bagi yang mengucapkannya maupun yang mendengarkannya. Lebih lanjut, malah dapat menimbulkan kerusakan yang tak berkesudahan. Allah swt. berfirman: (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. (An nuur: 15). Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang berbicara dengan suatu kalimat tanpa disertai kejelasan (bukti) oleh karena ucapannya itu, ia jatuh ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari jarak timur dan barat." HR. Bukhari.

Namun demikian sebaliknya, apabila kata-kata yang kita keluarkan adalah kata-kata yang penuh hikmah, insyaallah akan menimbulkan ketenangan dan kasih sayang. Ini juga merupakan salah satu bentuk keimanan. Rasulullah Saw. bersabda: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah.” HR Bukhari dan Muslim. Allah berfirman, Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An nisaa': 114)

Perlu juga kita perhatikan perbincangan ini, Mu'adz bin Jabal menemui Rasulullah saw, ia berkata, "Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang akan membuatku masuk surga." Rasulullah saw menjawab, "...Engkau harus menjaga ini sambil menunjuk ke arah lidahnya." Mu'adz mengulangi lagi pertanyaan yang sama, maka Rasulullah saw. bersabda, "Celaka engkau Mu'adz, bukankah manusia itu tersungkur dalam neraka hanya karena akibat dari ucapan mereka. HR. Ahmad. Demikian juga Umar ra. beliau pernah berkata,”Siapa saja yang banyak berbicara maka akan sering pula ia tergelincir, siapa saja yang banyak tergelincir maka akan banyak pula dosanya, dan siapa saja yang banyak dosanya maka nerakalah tempat yang lebih utama baginya.”

Menyadari bahaya akibat buruk perkataan yang tidak pada tempatnya sudah semestinya kita sebagai hamba-Nya dan umat Rasulullah saw benar-benar menaati rambu-rambu yang telah digariskan. Semoga kita dapat menjadi meneladani akhlak Rasulullah saw termasuk dalam berkata-kata karena itu sangat menentukan keselamatan kita di dunia dan akherat.

No comments:

Post a Comment