Tuesday, December 6, 2011

Tujuan Hidup

disiarkan IKIM [Institut Kefahaman Islam Malaysia] FM Malaysia, 5 Desember 2011, Oleh Ustadz Fahrul Muhammad, sekitar pukul 5 petang

Sebagai pengingat diri, berikut ini catatan ilmu yang sewaktu-waktu insyaAllah dapat kubaca kembali untuk muhasabah diri, semoga berguna juga bagi yang kebetulan membacanya. Kutuliskan dengan bahasa sendiri dengan usaha semaksimal mungkin menyampaikan intipati ilmu yang beliau kuliahkan. Mungkin penyampaian beliau jauh lebih baik dari saya, namun dimohon jangan khawatir isinya tetap sama.

Ustadz menerangkan mengenai tujuan hidup kita sebagai insan, sebagai hamba Allah. Kita sebagai manusia tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke muka bumi ini. Kita juga tidak pernah mengisi formulir ketika akan memasuki dunia ini, tahu-tahu kita dikandung, dilahirkan dan membesar serta menua. Ada beberapa tingkat manusia dalam memaknai tujuan hidup.

1. Untuk memenuhi kebutuhan hidup secara fisik saja misalnya makan minum, tempat tinggal, memenuhi keperluan pakaian dan barang-barang, menikah, bekerja. Aktivitas sehari-hari adalah dalam rangka memenuhi keperluan hidup tersebut dan tidak ada usaha untuk meningkatkan diri untuk hidup yang lebih dari itu. Kelompok ini sudah merasa tercukupi san terpenuhi keperluan hidupnya karena tujuannya adalah lebih bersifat materi dan keperluan biologis. Kadang untuk mencapainya dapat dilakukan dengan segala cara. Hal ini disebabkan nilai-nilai keimanan tidak menjadi landasan. Tidak ada usaha menambah ilmu karena merasa apa yang diketahui sudah cukup. Jadi ilmu mengenai menjadi muslim sejati tidak dicari termasuk juga masalah halal haram tidak menjadi pertimbangan. Mata, hati, telinga, otak tidak digunakan sebagai mana seharusnya sebagai seorang manusia. Kelompok ini diibaratkan hewan ternak.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah Orang-Orang yang lalai. “(QS. Al A'Raaf,7: 179)

2. Untuk mencapai tingkat sosial tertentu dalam masyarakat, mereka akan mempunyai kepuasan batin apabila telah mencapai posisi sosial tertentu yang menjadikannya popular dengan kemampuan masing-masing. Misalnya orang rela hidup bersama kalajengking dalam beberapa lama untuk mencapai catatan rekor. Orang rela mempersembahkan suara dan goyangannya untuk menjadi popular, walaupun mungkin lagu yang disampaikan dan penampilan yang dibawakan kurang membawa kemanfaatan. Orang rela menjadi miss world misalnya walaupun harus berlenggang lenggok dengan pakaian seadanya, tubuh badannya dapat dinikmati oleh setiap yang melihat. Mereka melakukan itu karena memang prinsip yang dipegangnya mengenai tujuan hidup adalah sebatas mencapai kepopuleran dengan segala keuntungan materiil yang mengikutinya dan itu merupakan ukuran kesuksesan dirinya. Kelompok ini diibaratkan dengan tumbuhan belukar yang kadang-kadang saling ‘menunjukkan’ durinya sebagai bentuk pertahanan dan eksistensi diri.

3. Untuk mendapatkan kekuasaan, mereka akan menempuh apa saja untuk mendapatkannya. Mengambil hati atau sebaliknya menjatuhkan yang di atas, menginjak yang di bawah atau menyikut yang disamping adalah sudah biasa. Bagaikan harimau di hutan yang menandai daerah kekuasaannya dengan cara tertentu untuk mendapatkan atau melanggengkan kekuasaannya. Kalau ada harimau lainnya masuk ke daerah kekuasaannya, maka akan timbul perkelahian. Kelompok ini diibaratkan binatang buas.

Ketiga kelompok orang menurut tujuan hidup ini tidak ada yang benar. Ketiganya salah karena hanya mengikut pemikiran manusia yang lemah dan dikuasai oleh hawa nafsu belaka. Berdasarkan apa yang sekilas disebut dibagian awal bahwa manusia itu tahu-tahu ada di bumi tanpa pernah meminta, artinya manusia itu diciptakan, maka semestinya tujuan hidup kita adalah sesuai dengan yang dimaksud oleh yang menciptakan kita, bukan menurut pemikiran kita. Untuk mengetahui apa tujuan hidup kita menurut Sang Pencipta kita, satu-satunya cara adalah dengan melihat dari ‘manual’ -Nya. ‘Manual’ dari-Nya ini adalah Al Qur’an. Allah SWT telah menyebutkan secara jelas mengenai tujuan hidup manusia di muka bumi ini;

” Aku tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariat:56).

Inilah sebenar-benar tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah karena kedudukan sebagai hamba Allah. Orang-orang yang secara sungguh-sungguh menjadi hamba Allah adalah mereka yang selamat dan menyelamatkan. Mereka pula yang akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan sejati. Sedangkan yang telah mencapai tujuan hidup dalam ketiga kelompok sebelumnya, hidup tidak dipenuhi ketenangan dan kebahagiaan sejati.

Cara yang senantiasa dilakukan oleh insan yang memahami benar bahwa dirinya bergelar hamba adalah dengan cara;

1. Senantiasa mencari ilmu dan mengamalkannya, berhenti mencari ilmu sama dengan berhenti hidup [mati]. Hal ini disebabkan ilmu adalah dapat digunakan sebagai penerang jalan, mengetahui dimana posisi kita dalam perjalanan menuju-Nya, apakah masih dijalan-Nya ataukah sudah jauh berbelok arah dari jalan-Nya.

2. Senantiasa bermujahadah, artinya melakukan yang yang perlu diperbuat walaupun sebenarnya kadang berat atau kurang disuka. Bermakna prihatin untuk mencapai kebahagiaan, mengikuti sunatullah. Segala sesuatunya dicapai dengan mekanisme yang ditetapkan Illahi untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Mujahadah itu pahit, syurga itu manis. Walaupun kadang jatuh, namun tidak kalah dan mengalah karena InsyaAllah Allah SWT menilai.

Dalam kuliah ini juga disampaikan bahwa pembahasan ini belum selesai, akan dilajutkan seminggu kemudian. Namun demikian untuk tulisan ini sementara tidak menjanjikan kelanjutannya karena penulis khawatir tidak bisa mengikuti acara tersebut pada waktu yang telah ditentukan.


No comments:

Post a Comment