Tuesday, December 6, 2011

Jangan mendikotomikan cinta


Seorang wanita berusia 35 tahun telah menanyakan kepada ustadz Fahrul Muhammad dalam majelis ilmunya di IKIM [Institut Kefahaman Islam Malaysia] FM Malaysia, 5 Desember 2011. Wanita tersebut menjelaskan mengenai kondisi kesehatannya yang tidak mendukung untuk berumah tangga sehingga dia mempertimbangkan untuk hidup melajang. Ustadz menjawab, bahwa memang pada kondisi demikian sangat dibenarkan seseorang untuk tidak menikah. Yang tidak boleh adalah dalam keadaan mampu namun memutuskan untuk melajang, misalnya dengan alasan sangat mencintai Allah SWT. Insan di dunia ini yang paling mencintai Allah SWT sekalipun, yaitu Rasulullah, baginda menikah dan menganjurkan umatnya untuk menikah.
….Rasulullah saw. bertanya, "Kalian yang menyatakan begini dan begini? Demi Allah, sungguh saya adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan yang paling bertakwa di antara kalian kepada-Nya; Namun saya berpuasa, dan juga berbuka, saya mengerjakan shalat dan juga tidur, dan (juga) menikahi perempuan termasuk dari golonganku." (Muttafaqun 'alaih).
Yang dimaksud dengan mendikotomikan cinta adalah menganggap bahwa mencintai manusia tidak bisa sejalan dengan cinta pada Allah SWT, cinta pada manusia pada jalurnya sendiri sedangkan cinta pada Allah pun mempunyai jalur yang lain. Hal ini tidaklah benar karena kita boleh mencintai manusia bahkan hal ini diperintahkan oleh Allah. Kita dapat merebut cinta Allah melalui mencintai manusia.
Tidak dibenarkan apabila;
1. Mencintai manusia lebih besar dari cintanya kepada Allah. Yang benar adalah mencintai manusia adalah sebagai sarana untuk dicintai-Nya atau bermakna ibadah sehingga tidak boleh melebihi besar cinta kepada yang memerintahkan.
2. Seseorang itu ingkar kepada Allah atau bahkan mempengaruhi kita untuk ingkar, namun kita tetap mencintainya.

No comments:

Post a Comment