Tuesday, December 13, 2011

Mengistighfari istighfar dan mentaubati taubat

Taubat nasuha untuk perbuatan dosa yang berulang-ulang

Melihat fenomena yang berlaku pada sebagian muslim yang menyesalkan terjadinya perbuatan dosa yang berulang walaupun telah beristigfar bahkan bertaubat maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sebenarnya mereka menyesal, namun mengapa perbuatan dosanya masih saja dilakukan. Pada akhirnya terjadi hal yang sangat dikhawatirkan yaitu putusnya harapan terhadap rahmat Allah SWT untuk memberi ampunan. Hal inilah yang memang ditunggu-tunggu dan sangat diinginkan oleh syetan. Bila harapan akan diberi ampunan telah hilang, maka kehidupan selanjutnya dimungkinkan akan tidak jauh beda dengan kehidupan sebelumnya yaitu masih diliputi dosa bahkan ada kemungkinan akan semakin bertambah-tambah.

Apabila pengulangan dosa ini terjadi maka seorang insan perlu mengistighfari istighfar dan mentaubati taubat. Ada hal yang perlu dikoreksi dalam pertaubatan tersebut karena taubat yang sejati tidak akan pernah memberi keleluasaan seseorang untuk mengulang lagi perbuatan dosa. Rabi'ah al-Adawiyah pernah mengatakan mengenai hal ini: "Istighfar kami ini memerlukan kepada istighfar yang banyak, iaitu istighfar dengan lidah sedang hatinya niat akan mengulangi perbuatan dosanya, maka taubatnya ialah taubat orang yang dusta dan ini tidak bernam taubat sebab syarat taubat ini ada tiga yaitu menyesal dalam hati, istighfar dengan lidah dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Bahkan Rasulullah saw. bersabda: "Istighfar hanya dengan mulut sedang tetap terus berbuat dosa bagaikan mempermainkan Tuhannya." Oleh karena itu, sebenarnya hal ini perlu dihindarkan. Namun apabila telah terjadi juga maka Allah sungguh Maha Pengasih jadi tetaplah untuk tidak kehilangan harapan akan ampunan-Nya. Bukankah Allah Maha Penerima Taubat sesuai dengan sifat Dzat Allah SWT: "Yang mengampuni dosa dan menerima taubat." (QS. Ghaafir: 3)

Dengan bekal harapan akan diampunkannya taubat, maka taubat yang sebenar-benarnya perlu dilaksanakan saat itu juga. "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53) "Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?" (QS. At-Taubah: 104). "Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syuuraa: 25). Rasulullah Saw pun bersabda: "Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian." (HR Ibnu Majah dari Abi Hurairah).

Inilah hikmah mengistighfari istighfar dan mentaubati taubat, melakukan istigfar dan taubat yang sebenar-benarnya. Perlu dilihat lagi kualitas istigfar dan yaitu perlunya seseorang mengoreksi taubatnya yang dahulu. Seorang hamba yang telah berbuat dosa perlu menyadari bahwa taubat dan istigfarnya kurang bermakna apabila masih saja mengulang dosa, Oleh karena itu ia perlu melakukan muhasabah diri.

Seorang yang ingin lepas dari jeratan pengulangan dosa perlu memperhatikan hal-hal berikut.

1. Bila telah sadar dan bertaubat, hendaklah berusaha merubah secara total untuk menjadi mukmin secara kaffah, karena kalau tidak demikian masih ada daya tarik yang kuat untuk sewaktu-waktu melakukan lagi perbuatan dosa. Syetan atas selalu memanfaatkan setiap titik kelemahan dalam diri seorang hamba Allah. Oleh karena itu tutup setiap celah tersebut semaksimal yang kita bisa. Selain itu manusia memang mempunyai hawa nafsu yang semestinya dikekang dan ini berat kecuali orang-orang yang bersungguh-sungguh.

2. Seseorang yang bertaubat perlu meninggalkan kebiasaan masa lalu yang memungkinkan ia berbuat yang sama. Segera rubah hidup menuju kehidupan yang berbalut sunnah. Lakukan selalu, dan tidak memberi kesempatan pola hidup buruk yang tidak sesuai dengan sunnah masuk dalam kehidupan kita. Apabila aktivitas yang tidak mengikuti sunnah kita lakukan, segera stop/hentikan dan kembali kepada sunnah nabi, karena kalau tidak segera dilakukan akan menjadi kebiasaan yang sukar untuk dihentikan.

3. Kematian bisa datang kapan saja, walaupun Allah Maha Penerima taubat, tetapi dapatkah kita memastikan kematian datang saat kita tidak sedang melakukan maksiat.

4. Walaupun Allah Maha Penerima Taubat, namun alangkah kurang beradabnya kita apabila melakukannya berulang kali jadi perlu ikhlas dan sungguh-sungguh melakukan pertaubatan.

5. Mohon untuk ditetapkan dalam jalan yang lurus “Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau membelokkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberianNya” (Ali ‘Imran: 8). Rasulullah saw pun selalu berdoa: “Wahai Yang Membolak-balikkan hati (Allah), tetapkan daku dalam agamu-Mu” (HR al-Tirmidzi, Ahmad).

6. Berusaha melakukan amal sholeh semaksimal mungkin dengan harapan dapat menutup dosa-dosa yang telah dilakukan. Selalu mengekang diri untuk tidak melakukan maksiat walaupun kecil karena yang kecil bisa menjadi besar, dan yang kecil bisa berterusan. Selain itu kemaksiatan akan menghalang kita dari cahaya keimanan, semakin banyak kemaksiatan dilakukan, semakin kecil keimanan akan mengakibatkan semakin sedikit/ menurun keinginan untuk melakukan amal sholeh.

7. Tetap berprasangka baik kepada Allah SWT karena Dia selalu mengampunkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh. “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nyawa sampai ke tenggorokannya” (HR al-Tirmidzi).

Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment