Friday, December 23, 2011

Muhasabah diri untuk mencapai keredhaan Illahi


Tulisan ini saya tujukan untuk diri yang sangat perlu bermuhasabah karena perkara ini sangat munasabah demi keselamatan hidup dunia dan akhirat. Dalam diri sangat banyak kekurangan sehingga sepatutnya bermuhasabah dan memperbaiki hidup di masa sekarang dan insya Allah masa datang. selagi masih diberi kesempatan. Syukur pada Allah apabila ada manfaatnya juga bagi siapa saja yang membacanya.
Dalam kesempatan bermuhasabah kita perlu menyadari bahwa kemungkinan besar amalan-amalan yang telah dilakukan dikotori oleh ketidakikhlasan atau kekotoran lain. Syukur kita masih dapat memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni dan mengangkat kekotoran tersebut dan menerima amalan di sisi-Nya, selagi Allah SWT masih memberi kita kesempatan untuk hidup di dunia. Apabila sudah di alam akherat nanti, bisa jadi seseorang terkaget-kaget mengetahui bahwa ternyata amalan-amalannya tidak bermakna di hadapan Allah SWT. Padahal kita sangat berharap pada amalan yang telah kita lakukan, namun ternyata perbuatan kita sendiri telah merusak amalan tersebut sadar atau tidak kita sadari.
Tidak ada yang dapat menjamin amalan manusia telah cukup membuatnya selamat di dunia dan di akhirat nanti. Manusia adalah insan lemah yang hatinya sendiri tidak dikuasainya. Insan sholeh yang sangat menjaga hati dan amalannya akan selalu berjuang untuk menjaga kebersihan hatinya sehingga tidak merusak amalan-amalannya. Jadi manusia memang sangat rentan berbuat kesalahan. Oleh karena itu, perlu muhasabah diri, supaya dapat melihat kesalahan-kelasahannya, dapat bertaubat dan memperbaiki diri di waktu-waktu selanjutnya. Manusia yang merasa tidak pernah berbuat kesalahan boleh jadi merupakan manusia yang angkuh. Hamba Allah juga perlu menanamkan dalam jiwa sifat tawaduk, rendah hati dan senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT.
Merupakan suatu musibah jika seorang insan tidak pernah merasa dirinya salah atau mempunyai banyak kelemahan. Jika perasaan ini telah tertanam dalam diri seorang hamba, orang itu menjadi tidak tertarik untuk muhasabah diri. Bila tidak tertarik untuk bermuhasabah diri, dimungkinkan tidak akan banyak perbaikan diri dalam kehidupannya karena ia telah merasa puas dengan setiap perilakunya. Padahal bisa saja, insan tersebut ternyata telah mengalami kerapuhan iman, ketaqwaan menipis, sering menyakiti hati orang lain, kurang khusyu’ dalam sholat, amal solehnya tidak banyak serta sebagian cacat karena berbagai hal seperti disebut-sebut, sedangkan dosa-dosa semakin ringan diperbuat, semangatnya dakwah menipis, pengorbanannya terhadap agama menghilang, sering tidak ikhlas, tidak wara’, kurang amanah. Dunia hampir saja membutakan sehingga akhirat sering tidak dianggap. Padahal dunia ini hanya sementara sedangkan akhirat adalah kekal. Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah bahwa) kehidupan dunia ini (meliputi segala kesenangan dan kemewahannya, jika dinilaikan dengan kehidupan akhirat) tidak lain hanyalah ibarat hiburan dan permainan dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui (hakikat ini tentulah mereka tidak akan melupakan hari akhirat)." (Al-Ankabut, 64)
Nabi Ibrahim setiap paginya mengucapkan suatu do’a yang dari do’a tersebut kita dapat menangkap tingginya kesyukuran beliau terhadap nikmat waktu yang masih diberikan serta tingginya harapan akan ampunan atas apa yang telah dilakukan serta permohonan atas penerimaan Allah terhadap amalan-amalan.
Sabda Nabi Ibrahim a.s.:
اللهم إن هذا خلق جديد فافتحه علي بطاعتك واختمه ليبمغفرتك ورضوانك وارزقني فيه حسنة تقبلها مني وزكهاوضعفها لي وما عملت فيه من سيئة فاغفرها لي إنكغفور رحيم ودود كريم
Yang artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Sesungguhnya ini adalah kejadian baru, maka bukakanlah kepadaku dengan mentha'ati-Mu dan sudahilah ia bagiku dengan keampunan dan kerelaan-Mu, Berikanlah rezeki akan aku padanya kebaikan, yang Engkau terimakan daripadaku! Sucikanlah dan lipatgandakanlah kebaikan itu bagiku. Dan apa yang aku kerjakan padanya dari kejahatan, ampunilah kiranya bagiku. Sesungguhnya Engkau maha pengampun, lagi maha pengasih, penyayang, lagi mulia".
Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: "Orang yang pandai adalah orang yang memuhasabah dirinya dan beramal untuk waktu setelah kematiannya, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang jiwanya selalu tunduk kepada nafsunya dan mengharap pada Allah dengan pelbagai angan-angan" (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Berkaitan dengan hadis ini, Khalifah Umar Al-Khattab RA pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT kelak. Bersiaplah menghadapi hari perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.”
Perlu juga kita perhatikan petunjuk dari Ibnul Qayyim mengenai cara muhasabah diri dalam beberapa hal. Pertama, muhasabah diri tentang semua semua yang diwajibkan dan bertekat untuk melakukan semua yang diwajibkan sebaik-baiknya. Kedua, muhasabah diri terhadap maksiat dan dosa yang telah dilakukan, bertaubat, beristighfar serta memperbaiki diri. Ketiga, muhasabah diri terhadap kelalaian dan kealpaan. Apabila masih banyak kelalaian, maka perlu mendekatkan diri kepada Allah dengan sholat berjemaah, menghadiri majelis ilmu, berdzikir dan membaca Al-Quran. Keempat, muhasabah pada seluruh anggota badan yaitu kaki, tangan, mata, telinga, lidah dan lain-lain. Apabila masih digunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai syariat, maka perlu dihentikan dan syukuri nikmat tersebut dengan menggunakannya di jalan Allah.
Dalam muhasabah diri, salah satu tanda seseorang telah berusaha untuk memperbaiki hidupnya sebagai hasil dari muhasabah adalah dengan berhijrah. Sedangkan makna hijrah itu sendiri menurut hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abdullah bin Amru, "Sesungguhnya orang yang benar-benar berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah subhanahu wataala.”
Selain itu, dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun insan yang berhasil dalam muhasabahnya menjadi semakin baik. Ia semakin dekat dengan Allah SWT, makin kuat keimanannya, makin menjauh dari maksiat, makin kuat beramal, makin baik dalam pergaulannya dengan sesama hamba Allah juga dengan setiap ciptan-Nya, kecintaan kepada Allah SWT dan Rosul-Nya semakin besar. Apabila ini berlangsung terus-menerus sampai ajal menjemput, insya Allah ia diredhai-Nya. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment