Saturday, March 10, 2012

3 Titipan-Mu yang Indah, Lisa, Hanif dan Athifah


Lisa, Hanif dan Tifa adalah tiga gadis kecil yang dikaruniakan Allah SWT kepadaku dan suami [alm]. Saat kutuliskan ini, lisa sudah berumur 12 tahun. Subhanallah, saya merasakan kesholeha-an anak ini. Sejak masih balita, lisa telah memakai jilbab apalagi ketika TK di kala jilbab belum diwajibkan dipakai di sekolahnya. Dan akhirnya, beberapa waktu kemudian TK itu telah mewajibkan jilbab dipakai murid-muridnya. Waktu masih kelas satu SD, kalau pergi keluar rumah ia tidak lupa selalu berusaha memakai pakaian muslimnya. Bila ibunya lupa tidak memakaikan jilbab, ia akan sembunyi dalam mobil tidak mau dilihat orang.
Dialah yang sering mengingatkan ibunya apabila kumelakukan kesalahan. Dia dan Hanif sering memberi kado saya sebagai ibunya baju muslim yang syar’i. Suatu saat, ketika saya telah memakai baju-baju rok yang longgar, dia bertanya pada saya, ‘apakah ibu telah bertobat’. Anak ini memang tlah membuat saya malu pada Allah, menjadi salah satu motor penggerak yang kuat menuju jalan yang diredhai-Nya. Saat ini mujahadah menjadi perkara yang penting bagi kehidupan gadis kecil ini, sejak sekitar 1 bulan setelah bapaknya tiada ia telah rutin puasa Daud [sebelumnya senin-kamis] dan masih trus menghafal Al Qur’an. Ya Allah Yang Maha Agung, istiqomahkan anak-anak ini, istiqomahkan kami. Subhanallah walhamdulillah, ya Allah karunia-Mu sungguh indah.
Tanggal 24 Maret 2011, hari dipanggilnya Bapak Rosul yaitu bapak ketiga anak ini, sikap anak-anak ini sungguh mengharukan. Menangis, memang iya lisa hanif menangis kala pertama datang ke HUKM [Hospital Universiti Kebangsaan Malaysia]. Mereka mendapati bapaknya yang 10 hari sebelumnya baru saja menemui mereka di Yogya dengan keadaan yang masih relatif sehat, telah tiada. Bapak yang sangat menyayangi mereka dan merekapun sangat menyayangi almarhum. Sore tanggal 23 Maret 2011 mereka dijemput adikku dari rumah tahfidz tempat mereka belajar untuk esoknya diterbangkan ke Malaysia dengan harapan berjumpa dengan bapaknya selagi masih ada, namun Allah menghendaki lain. Bapaknya tlah tiada pukul 9 pagi, dan mereka sampai ke rumah sakit pukul 3 sore. Mereka tidak tahu kalau bapaknya sakit dan dalam keadaan koma saat mereka diterbangkan ke Malaysia. Hanya secara samar mereka mendengar pilot mengatakan pada orang bahwa bapaknya stroke, tapi mereka tidak mengetahui arti stroke itu apa.
Tidak ada penyesalan, ini semua adalah yang terbaik. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin mempertemukan anak-anak dengan bapaknya selagi masih ada kesempatan. Ucapan Hanif beberapa jam setelah bapaknya tiada adalah ‘Bu, saya seperti bapak dulu ya, ditinggal bapaknya ketika kelas 3 SD’. Ucapan ini melegakanku, setidaknya dia bisa menerima bahwa bapaknya telah dipanggil Allah, itu normal dulu pun bapaknya mengalami seperti itu. Sedangkan lisa, saya tlah menjumpai tulisan dengan tanda tangan lisa di selembar kertas tissue. ‘Hari ini adalah hari yang penuh sejarah dihidupku sampai umur 11 tahun ini. Ku yakin karena kasih sayang Allah kepadanya. Allah akan meyakinkanku untuk hafal Al Qur’an dan mendapatkan nilai terbaik di tahun ini dan seterusnya SEPERTI BPK ROSUL. 24-3-2011. Ttd, lisa.’ Ya Allah, anak sekecil ini sudah demikian dewasa menyikapi meninggalnya bapak tercinta, Maha Suci Engkau ya Allah yang telah menganugerahi hamba anak sholeha ini.
Tifa, sekecil yang masih 3 tahun 3 bulan saat ditinggal bapaknya masih belum mengerti benar. Yang dia tahu bapaknya ada di alam barzah walaupun ia belum mengerti apa itu alam barzah. Sebagai ibunya, saya tidak ingin membohongi atau memberi harapan bahwa bapaknya masih ada dan dalam keadaan sakit seperti terakhir ia temui di rumah sakit. Namun saya juga tidak tega mengatakan bahwa bapaknya telah meninggal, saya takut melukai hatinya walaupun arti kata meninggal pun ia masih samar-samar antara tahu dan tidak. Kadang ia menanyakan mana bapak kenapa lama tidak datang untuk melihatnya. Kalau sudah begini, saya memang agak kerepotan menjawabnya sambil menjaga keseimbangan hati menahan kepedihan. Walaupun begitu, tetap ada harapan yang besar atas kepedihan yang disegerakan di dunia ini, yaitu kebahagiaan yang disegerakan pula insyaAllah di akhirat nanti, amin ya rabbal ‘alamin.
Hamba-Mu ini masih tetap mengharap-harap akan Engkau satukan lagi kami nanti seperti firman-Mu:
] وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْناَ بِهِمْ ذُرَّيَّتَهُمْ وَماَ أَلَتْناَهُمْ مِنْ عَمَلَهُمْ مِنْ شَيْءٍ [
dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam syurga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka.(QS. 52: 21)
Maka, mudahkan dan tuntunlah kami untuk memenuhi syarat supaya termasuk dalam golongan orang-orang yang dikumpulkan kembali seperti tersebut dalam kalam-Mu, ya Allah..

No comments:

Post a Comment