Thursday, March 29, 2012

Cinta menurut Ibnu Arabi, Ibnu Qayyim dan Ash-Syeikh Thaha Abdul Baqi Surur


Cinta Menurut Ibnu Arabi
Salah seorang filosof dan tokoh sufi yaitu Ibnu Arabi menjelaskan cinta dengan nafas tasawuf dalam uraian sebagai berikut. Dalam kehidupan ini adalah sebuah rahasia yaitu rahasia kehidupan yang di dalamnya terbentang alam yang diciptakan oleh Allah SWT. Penciptaan alam ini tidak lain adalah untuk  menciptakan cinta kepada penciptanya yaitu Allah SWT. Cinta yang tumbuh dalam diri manusia sebenarnya selalu menghembuskan nafas kepada Sang Pencipta cinta dan pencipta Makhluk. Namun demikian dalam kenyataannya kadang cinta pada makhluk, materi, pangkat menutup cinta kepada-Nya padahal bukan itu hakikatnya.
Cinta timbul karena adanya keindahan dan keindahan itu diciptakan oleh Allah SWT  karena Allah itu indah dan mencintai keindahan. Selain itu cinta juga datang karena adanya kebaikan, kebaikan ini juga datang dari Allah SWT.  Bila kita mencinta kecantikan, bila kita mencintai keindahan, maka Dialah yang pantas kita cinta karena semua itu berasal dari-Nya.  
Cinta perlu dibuktikan dengan tanda, penyaksian dan syarat karena cinta tidak cukup dengan pengakuan. Seorang pecinta akan menggunakan seluruh inderanya mengingat, memuji dan mengagumi yang dicintainya. Apa yang dilihat, didengar, diraba, dirasa, semuanya tentang kekasihnya.  Apabila penyaksian bertambah maka cintanya semakin bergelora karena ada rindu yang dirasa. Apa yang diberikan oleh kekasihnya akan terasa agung. Tanda cinta seorang pecinta adalah selalu taat patuh kepada yang dicintainya bahkan rela mengorbankan diri demi yang dicintainya.

Cinta Menurut Ibnu Qayyim
Cinta menerangkan yang tidak jelas dan menjelaskan tujuan hidup yang dikehendaki oleh yang menciptakan seperti tercantum kalam-Nya; ‘Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah  Ku’. Jadi tujuan jin dan manusia diciptakan adalah untuk menyembah Allah, dan penyembahan ini didasari cinta. Manusia juga perlu mensyukuri cinta melalui puja dan puji terhadap kebenaran dan kemuliaan sifat dan nama-Nya. Begitu cinta-Nya Allah pada diri-Nya sendiri maka diciptakannya makhluk untuk mencintainya dengan syariat-Nya.
Allah sangat mencintai mukmin sehingga Dia menjanjikan ganjaran yang indah bagi mukmin yang mencintai-Nya. Hal ini termaktub dalam  Surat At-Taubah, 111. ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga.’ Janji ini hanya dibuat untuk orang mukmin dan ini menunjukkan betapa cintanya Allah kepada mukmin. Orang yang beriman pada-Nya biasanya sangat besar cintanya pada Allah. Hal ini ada dalam firman-Nya QS Al Baqarah, 165.

Cinta menurut Ash-Syeikh Thaha Abdul Baqi Surur
Cinta telah mempu membantu manusia menjelaskan makna kehidupan dan tujuan hidup. Manusia diciptakan karena Allah SWT menghendaki dikenali, dicintai. Oleh karena itu Dia menciptakan makhluk supaya dikenal dan dicintai. Supaya hamba dapat menyembah dan mengagungkan-Nya. Apabila kita sujud dan memohon kasihnya dan Dia berkenan maka balasannya adalah redha, cinta dan syurga.
Ketika iman manusia bertambah maka bertambah pulalah cintanya pada Ilahi. Dengan mencintai maka kita dapat memahami makna kehidupan dan memperoleh bahagia dan nikmat karena mencinta. Seorang pencinta akan mendapat anugerah berupa keadaan roh yang penuh dengan kasih sayang, redha dan tentram. Keburukan dan kekurangan menghilang perlahan-lahan dan menimbulkan cinta dan kasih pada makhluk yang lain. Seorang yang mencinta selalu memandang apa yang dihadapi adalah sebagai ketentuan yang harus ditaati dan ia menyukainya.

Sumber; Ash-Syeikh Thaha Abdul Baqi Surur, Syakhshiyah Ash-Shufiyah. Pengembaraan ke Alam Ruhani, Tinjauan tentang Pijakan Tasawuf dan Alam Fikiran Sufi. Drs. M.Nur Mufid M.A. dan Mahfudz Sa’ad. Selangor, Thinker’s Library Sdn Bhd. 2000
artikel terkait 1
artikel terkait 2
artikel terkait 3

No comments:

Post a Comment