Monday, March 12, 2012

Hitung Kesyukuran bukan Kesyukaran

Syarat ibadah yang keenam, yaitu natijah/kesan/akibat, merupakan pembahasan yang berkaitan dengan tulisan 6 syarat ibadah [archive bulan Desember 2011]. Kesan/akibat dari aktivitas ibadah umum kita [misalnya bekerja] berupa;

1. Material, contoh dalam bentuk gaji atau keuntungan dalam perdagangan. Tak kalah penting adalah keluarkan zakat, gaji digunakan di jalan Allah SWT bukan digunakan untuk maksiat. Lazimnya, jika rizki mudah digunakan untuk kearah kebaikan biasanya itu karena rizki baik dan sebaliknya. Untuk muhasabah diri; uang rm 50 dijumpai di masjid, tapi 100 rm banyak dijumpai di super market, mari kita renung-renung maknanya.

2. Spiritual. Syukur nikmat dari segi qauli dengan perkataan yaitu Alhamdulillah. Syukur dari segi qolbi dalam hati mengakui bahwa keberhasilan itu datangnya dari Allah karena segalanya bermodalkan dari nikmat Allah jua. Syukur perbuatan, kita gunakan nikmat selaras dengan tujuan Allah memberi dan menciptakan nikmat itu. Jika diberi nikmat ilmu, maka digunakan untuk mengajar bukan untuk menyobongkan diri. Kalau punya tenaga dan kuasa, maka digunakan untuk keadilan, membantu yang lemah, dll.

Apabila tidak bersyukur, maka dapat dikatakan sebagai kufur nikmat. Kufur nikmat dari segi qauli; mengatakan bahwa nikmat ini adalah dari usahaku. Kufur nikmat dari segi qolbi. Contoh yang terjadi pada Qarun yang merasa bahwa nikmat yang dikaruniakan padanya adalah hasil dari kepandaiannya. Kufur nikmat dari segi perbuatan, digunakan untuk mendurhakai Allah SWT misal korup. Hukuman tidak hanya di akhirat tetapi juga di duni, ia tidak cukup, tidak puas, keletihan yang tidak berpenghujung.

Bila bersyukur maka rizki yang sedikit dapat menjadi banyak [kuantitas/kualitas], bila tidak bersyukur yang sedikit bisa jadi lebih sedikit yang banyak bisa jadi sedikit. Siapa yang tak syukur dengan yang sedikit sukar untuk syukur yang banyak, Hitung kesyukuran kita jangan kesyukaran kita. Dengan menghitung kesyukuran maka kita akan lebih dapat mengagungkan dan mempertahankan nikmat serta membagi nikmat tersebut untuk banyak orang. Bila nikmat telah meresap sehingga terasa berharga dan manis dalam diri secara otomatis kita akan cenderung berbagi.

Majelis Ilmu Ikim fm, disampaikan Ustadz Fahrul. 12 Maret 2012 pukul 05.30 pm.

No comments:

Post a Comment