Monday, March 12, 2012

Memahami Ujian dan Musibah menurut Dr. ‘Aidh Abdullah Al Qarni

Dr. ‘Aidh Abdullah Al Qarni mengatakan bahwa dalam ujian dan musibah, ada tujuh perkara yang perlu kita fahami sehingga kita dapat menyambut ujian atau musibah dengan jalan yang diredhai-Nya. Kaedah-kaedah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Merupakan sunnatullah bahwa di dunia ini ada perubahan, pergantian, perpindahan keadaan. Allah menetapkan dua hal yang berlawanan. Jika sesuatu telah mencapai batasnya, maka ia akan berbalik pada hal yang berlawanan dengannya. Apabila malam telah sampai batas dan telah selesai dalam putarannya maka fajar akan terbit untuk menggantikannya. Jadi kesulitan dalam hidup ini tidak berlangsung terus-menerus namun berubah menjadi kelapangan dan kemudahan.

2. Penderitaan pada awalnya besar, kemudian mengecil. Kepedihan yang diakibatkannya pun tidak berlangsung selamanya namun sakit pada awalnya dan berangsur-angsur memudar. Sikap sebagai hamba yang seharusnya adalah bersabar sejak benturan pertama, saat itulah ia mendapat pahala dan balasan. Allah memuliakan seseorang yang mampu berinteraksi dengan berbagai penderitaan karena musibah merupakan penyaringan, ujian, pengajaran, penyucian, pengampunan.

3. Seandainya bukan karena penderitaan, niscaya kenikmatan tidak dapat dirasakan. Orang yang tidak pernah ditimpa musibah hidupnya dalam gelisah resah karena larut dalam perputaran yang terus-menerus dan membosankan. Pergantian keadaan dengan adanya ujian menjadikan timbulnya kenikmatan. Ali Tamam berkata; ‘Sekalipun kepedihan berbagai peristiwa menimpamu, namun justru itu yang memberitahukanmu mengenai nikmatnya.’

4. Diantara yang dapat meringankan beban musibah adalah dalam setiap hari yang dilaluinya berarti ia telah melepaskan sebagian ujian yang menjadi tanggung jawabnya dan mendekati jalan keluar, ia menuju kepada kemudahan.

5. Allah memiliki hak mutlak mentukan apa yang terjadi pada hamba-Nya, Setiap yang ditentukan Allah itu adalah kebaikan walaupun terlihat buruk. Jadi kebaikan bukan selalu yang dianggap baik oleh seorang hamba dan keburukan bukan selalu pada hal yang disangka buruk oleh hamba. Bila demikian, maka seorang hamba dapat menyadari posisinya bahwa pengetahun tentang hal ini semuanya ada di tangan Allah SWT.

6. Jika musibah sangat berat dan sangat menyakitkan dan telah sampai puncaknya, maka datanglah jalan keluar. Segala sesuatu mengalami perubahan dan kepupusan kecuali Allah yang kekal. Jadi jika musibah telah membesar dan semakin parah, maka itu merupakan kabar gembira bahwa musibah itu akan sirna dan berlalu.

7. Jika seorang hamba menemui musibah sampai ditimpa keputusasaan serta tidak mampu menembus pemecahan masalah maka datanglah jalan keluar itu. Ketika itu seorang hamba dalam keadaan pasrah hanya pada Allah dan ketauhidannya inilah mendekatkannya pada pertolongan Allah. QS Yusuf 110, ‘Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.’

Pada kondisi ini manusia telah gagal dalam pencariannya pada manusia sehingga ia menemukan hasrat yang kuat menuju Allah, dan ketika ia memohon, maka Allah memberi karunia-Nya. QS An-Naml 62, ‘Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).’

Dari karya Dr. ‘Aidh Abdullah Al Qarni, Wal ‘Asr [Demi Masa]. Muhammad Akhar Nasution, Lc. [penterjemah]. Selangor, Hizi Print Sdn. Bhd. 2011.

No comments:

Post a Comment