Friday, March 9, 2012

Mengenal Peringkat Nafsu, Memahami Kedudukan Diri


Dalam perjalanan kita menuju Allah SWT, terdapat dua penghalang besar yang perlu kita kenali supaya kita bisa mengatasinya. Kedua penghalang ini adalah syaitan dan nafsu. Kali ini akan dibahas satu persatu mengenai nafsu yang terdiri dari tujuh peringkat. Tujuan dari mengenai peringkat nafsu ini salah satunya supaya kita dapat menilai diri sendiri di manakah kedudukan kita. Apabila kita telah menyadari posisi kita berdasarkan tingkat nafsu dalam diri maka diharapkan dapat selalu bermujahadah. Hal ini sebaiknya dilakukan secara terus-menerus dan sungguh-sungguh serta ikhlas untuk mencapai kenaikan tingkat nafsu dari satu tingkat ke tingkat lain yang lebih baik demi keselamatan dunia akhirat.
1. Nafsu Ammarah
Beberapa sifat orang yang bernafsu ammarah adalah selalu dalam godaan nafsu dan syaitan sehingga selalu berbuat kejahatan baik ia faham bahwa perbuatan itu jahat maupun tidak. Firman Allah SWT dalam surat Yusuf, 53 ‘dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.’
Orang itu tidak merasa duka dan menyesal atas perbuatan jahatnya, bahkan ia merasa gembira. Selain itu ia akan selalu gembira bila mendapat nikmat dan putus asa bila ditimpa kesusahan. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Isra’ 83; ‘Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.’
Dari benih-benih nafsu ammarah ini, akan timbul sifat-sifat keji seperti bakhil, tamak, panjang angan-angan pada dunia, sombong, takabur, suka kemewahan, ingin populer, dengki, khianat, niat jahat, lalai terhadap Allah SWT, dll.
2. Nafsu Lawwamah
Merupakan nafsu yang selalu mengkritik atau mencela diri sendiri bila terjadai perbuatan dosa pada dirinya. Nafsu ini kedudukannya sedikit lebih tinggi dari nafsu ammarah namun masih rakus dan banyak mazmunah. Kebaikannya, orang dengan nafsu ini mudah dinasehati dan hatinya mudah terdorong kearah kebaikan. Walaupun demikian, nafsunya masih belum dapat ditundukkan. Sabda Rasulullah SAW; ‘Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan untuknya penasehat dari hatinya [sendiri].’ HR Abu Mansur Ad-Dailani.
Beberapa sifat nafsu ini adalah; mencela kesalahan diri sendiri, selalu bertafakur mengenang dosa, rasa takut bila bersalah, mengkritik kejahatan, mudah riya’, mudah sum’ah yaitu ingin memberitahu kebaikan yang telah dilakukan untuk mendapat pujian. Terdapat pada orang awam dan syurga untuk orang dalam tahap ini tidak terjamin kecuali mendapat ampunan dan rahmat Allah SWT.
3. Nafsu Mulhamah
Apabila seseorang yang mempunyai nafsu lawwamah bersungguh-sungguh mujahadah, dimungkinkan dapat mencapat tahap nafsu mulhamah melalui proses pencucian hati atau mujahadatunnafsi. Tidak ada lintasan kotor dalam hati mahupun kekuatiran bisikan syaitan namun justru Allah SWT atau malaikat yang memenuhi hati dengan ilham-ilham. Firman Allah SWT dalam Surat Asy-Syam ayat 7-10. ‘dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Sifat-sifat nafsu mulhamah antara lain tidak sayang harta, tidak cinta dunia, merasa cukup dengan karunia tuhan atau qanaah, mendapat ilmu laduni atau ilham, tawadhu kepada Allah SWT, Taubat nasuha, Sabar yang hakiki, tahan menanggung kesusahan. Orang dalam tahap ini mulai masuk ke batas maqam wali dan mulai mencapai fana yang menghasilkan makrifat dan hakikat [syuhud].
4. Nafsu Mutmainah
Melalui mujahadah yang lebih bersungguh-sungguh serta berterusan, nafsu mulhamah akan meningkat menjadi nadsu mutmainah. Dalam tahap ini, hati mencapai peringkat suci dan tenang. Nafsu ini merupakan martabat nafsu pertama yang diredhai Allah SWT yang layak memasuki syurga. Allah berfirman dalan syrat Al-Fajr, ayat 27-30, ‘Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.’
Ciri-ciri orang yang mempunyai sifat ini adalah murah hati dan suka bersedekah, tawakal, arif dan bijaksana, kuat beribadah, syukur, redha, taqwa dengan sebenar-benar ketaqwaan, dll.
5. Nafsu Radhiah
Memiliki seluruh sifat mahmudah serta kuat hubungan hatinya dengan Allah SWT, selalu dipimpin oleh Allah, mempunyai ilmu laduni dan pandangan mata hati yang tajam atau firasat. Rasulullah SAW bersabda, ‘Takutlah akan firasat orang mukmin, bahwasanya orang-orang mukmin itu melihat dengan nur Allah.’ HR Tarmadzi.
Orang-orang ini tidak risau dengan bala tidak gembira dengan nikmat Allah, namun yang ia tahu hanya keredhaan-Nya. Firman Allah SWT dan surat Yunus ayat 62, ‘Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’
Nafsu mereka telah dapat ditundukkan dan terdidik, mereka juga disinari oleh nur syuhud kepada makrifat. Alam bagaikan cermin yang menggambarkan kebesaran Allah. Sifat mahmudah dalam nafsu radhiah antara lain zuhud, ikhlas, wara’, meninggalkan yang tidak selayaknya dan memelihara hukum-hukum Allah SWT. Mereka dapat menikmati buah luhurnya budi dan sifat rohani yang tinggi, wiridnya hebat lisan dan qolbu dengan penuh kusyu’ dan tawadhu. Al A’raf, 205. ‘Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.’
6. Nafsu Mardhiah
Orang dalam peringkat ini sangat tenang dan tenteram sesuai sabda Rasulullah SAW, ‘Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang, maka dekatilah ia. Sesungguhnya ia akan mengajar kamu hikmah.’ HR ibnu majah.
Dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman, ‘Senantiasalah hamba-Ku berdampingan dengan-kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah sunat hingga Aku cinta dia maka jika Aku cinta dia niscaya Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lidahnya yang ia berkata dengannya, gerakan tangannya yang ia menggerakkannya, berjalan kakinya yang ia berjalan dengannya, berfikir hatinya yang ia berfikir dengannya.’
Orang ini digelar wali Allah yang mempunyai sifat-sifat rohani sebagai berikut; tinggi budi seumpama nabi-nabi, lemah lembut dalam pergaulan seumpama nabi-nabi, senantiasa merasa ingin beribadah kepada Allah. Senantiasa berfikir mengenai kebesaran Allah dan redha dengan setiap pemberian Allah.
7. Nafsu Kamilah
Peringkat kesucian tertinggi dan kamil yaitu sempurna telah dicapat bila seseorang berada dalam nafsu kamilah ini. Setiap perilakunya dalam garis keredhaan Allah SWT. Cintanya tertumpu pada Allah dan ingatan pada-Nya tidak pernah terputus. Allah berfirman dalam hadis qudsi; ‘Sesungguhnya telah lama orang-orang yang baik-baik itu rindu untuk bertemu dengan Aku, dan Aku lebih rindu untuk bertemu mereka.’ HR Abu Darda’. Hanya para rasul, nabi, dan wali-wali besar saja yang dapat mencapai tahap ini. Namun apabila Allah berkehendak orang sholeh dapat menuju nafsu tertinggi ini dengan proses mujahadah yang sungguh-sungguh dengan bimbingan dan karunia-Nya.
Merupakan catatan yang diambil dari buku Asas-Asas Pembentukan Akhlak Mulia, halaman 110-115, Fadhilah A. Alim, Muhamad A. Shahbudin. 1999. Johor, Perniagaan Jahabersa.

No comments:

Post a Comment