Saturday, March 10, 2012

Mualaf: Fatimah binti Abdullah Menemukan Persaudaraan dan Kasih Sayang dalam Islam


Mitha, namanya sewaktu belum masuk Islam pada tahun 2003 memutuskan untuk kembali ke jalan yang diredhai Allah SWT dan mengganti namanya menjadi Fatimah binti Abdullah. Saya bertemu Fatimah hampir setiap hari antara Maghrib sampai Isya’ di surau dekat tempatku menumpang hidup sementara di negeri jiran ini yaitu di pinggir kota Kuala Lumpur. Fatimah berasal dari Perak, ia adalah warga Negara Malaysia etnis India.
Awal masuk Islam, ia masih berhubungan dengan orang tuanya walaupun mendapat penentangan yang keras. Penentangan terhadap keislamannya tidak hanya datang dari dari ibu bapaknya tetapi juga dari seluruh saudaranya. Puncaknya pada tahun 2005 ia benar-benar tidak diakui lagi sebagai anak dari orang tuanya. Waktu itu bapaknya kurang lebihnya mengatakan, ‘Kamu sekarang telah Islam, jadi bukan termasuk dalam keluarga ini lagi. Oleh karena itu kamu tidak boleh lagi masuk ke rumah ini.’ Kunjungannya ke rumah setelah itu tidak lagi diterima dan itu berlaku sampai sekarang ini, bahkan setelah lahir cucu pun mereka tetap tidak mau menerima.
Ketertarikan pada Islam dimulai ketika terjadi interaksi dengan teman-teman sekerja di Rawang yang beragama Islam. Perilaku mereka yang bersahabat, terasa ada kasih sayang antar pemeluknya yang menarik dia untuk mengetahui mengenai Islam. Apalagi ketika ada seseorang lelaki muslim yang berniat menyuntingnya, kedekatannya dengan Islam semakin terasa. Lelaki itu merupakan penghijrah dari Bangladesh sejak tahun 2000. Dari lelaki itu pula ia sedikit demi sedikit mengetahui mengenai Islam. Resiko kehilangan teman-teman dan keluarganya ternyata tidak memudarkan keinginan Fatimah untuk kembali kepada jalan Allah. Tahun 2003 menjadi tahun bersejarah bagi Fatimah karena ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat.
Setelah kembali ke Islam, Fatimah rajin mengikuti kelaas-kelas agama yang relatif banyak memberi ilmu agama dan semangat untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Dari kelas-kelas agama ini pula ia mendapatkan bekal yang ternyata menjadi semacam pondasi dalam kehidupan selanjutnya. Saat ini ibadah-ibadah wajib dan sunat telah rutin ia lakukan.
Pada tahun 2006, ia menikah dengan suaminya yang muslim berasal dari Bangladesh itu. Dari suami pulalah ia mendapat bimbingan lebih lanjut mengenai Islam. Saat mereka tinggal di sebuah flat bersama ketiga buah hati, yang terkecil berumur 1,5 tahun. Kebahagiaan keluarga ini pun dirasakan juga oleh pihak keluarga di Bangladesh, dan mereka pernah bersama-sama bersilaturahmi ke Bangladesh pada tahun 2009.
Saat ini tidak ada masalah besar yang dirasakan Fatimah berkaitan dengan keislamannya. Hanya anak-anaknya saja yang masih sering mendapat sedikit gangguan dari anak-anak lain. Walaupun demikian, secara umum kebahagiaan telah dirasakan Fatimah dalam keislamannya sekarang. Fatimah merasakan di mana-mana akan diterima dengan sayang sebagai saudara seiman. Senyum dan kebahagiaan Fatimah terlihat jelas ketika ia menceritakan mengenai betapa sayangnya muslimin muslimat menerima kehadirannya.

Note; Gambar di atas adalah Athifa anakku bersama Fatimah dan anaknya, Zarina

No comments:

Post a Comment