Monday, March 26, 2012

Pembahasan mengenai Hukum Sabar menurut Dr . Yusuf Qardhawi


Dr . Yusuf Qardhawi dalam bukunya ‘Al-Qur’an Menyuruh Kita Bersabar’ membahas mengenai hukum sabar sembari mengambil dan menjelaskan pembahasan Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali sebagai berikut. Ibnu Qayyim menyatakan dalam bukunya Madarijussalikin bahwa hukum sabar adalah wajib dengan ijmaaul ummah atau kesepakatan umat. Hal ini benar secara umum, namun bukan secara terperinci.
Dalam kaitannya dengan sabar sebagai perkara yang wajib termaktub dalam firman-firman-Nya sebagai berikut. Allah SWT menyuruh manusia bersabar dalam banyak ayat dan dasar perintah ini adalah wajib.
Al-Baqarah 153; Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar.
Allah SWT juga melarang perbuatan yang berlawanan dengan kesabaran.
Ali Imran 139, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.”
Al Qur’an memberi petunjuk hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena kebahagian di dunia dan akhirat hanya bisa dicapai dengan bersabar, maka hokum sabar adalah wajib. Demikian pula sabar dalam menentang yang haram, hukumnya wajib tergantung besar kecilnya yang haram. Sabar terhadap perkara makruh atau yang bukan afdal maka hukumnya mustahab. Misalnya membalas keburukan dengan keburukan dibolehkan syariat namun memberi maaf lebih baik. Bersabar menghadapi kejahatan dan membela diri dari penganiayaan bukan wajib namun dianjurkan dan terpuji bila dilakukan.
An-Nahl 126, ‘Dan jika kamu membalas kejahatan (pihak lawan), maka hendaklah kamu membalas dengan kejahatan yang sama seperti yang telah ditimpakan kepada kamu, dan jika kamu bersabar, (maka) sesungguhnya yang demikian itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang sabar.’
Ajaran Kristen melarang membalas kejahatan dengan yang serupa, namun menyuruh memberikan pipi kirinya bila dia ditampar pipi kanannya. Islam lain, ada prinsip keadilan di dalamnya yaitu boleh membalas dengan yang serupa dan dilarang membalas dengan yang lebih keji darinya. Namun demikian sangat dianjurkan untuk bersabar dan memberi maaf serta menolak kejahatan dengan yang lebih baik, ini merupakan keutamaan dan kebajikan.
Al-Baqarah 194, “Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketauhilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”
Iman Al-Ghazali dalam Al-Ihya menguraikan hukum sabar sebagai berikut. Hukum sabar terdiri dari empat yaitu fardhu, mustahab atau baik, makruh dan haram. Sabar dalam melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang haram adalah wajib. Sabar dalam melakukan yang tidak wajib atau sunnah hukumnya baik. Sabar dalam penderitaan diri dan keluarga dan tidak berbuat apa-apa hukumnya makruh. Sabar terhadap pelanggaran susila terhadap keluarga dalam keadaan berkemampuan untuk melawan namun dia diam adalah haram.
Adalah penting untuk diingat bahwa syariat menjadi ukuran dalam penilaian terhadap sabar. Misalnya sabar yang makruh adalah sabar terhadap yang perbuatan yang makruh menurut syariat. Sabar adalah separuh dari iman, jadi tidak semua sabar adalah terpuji karena sabar yang terpuji adalah sabar yang khusus [Ihya Ulumuddin jilid IV hal. 69].
Iman Ghazali mengatakan juga bahwa dalam setiap malapetaka yang mampu dihindari, maka sabar tidak diperintahkan. Jika seseorang sakit, maka dia tidak boleh bersabar dengan mendiamkan sakitnya, namun mengobati sambil bersabar dalam proses pengobatannya itu. [Ihya Ulumuddin jilid IV hal 127]
Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT tidak berkenan dengan muslim yang dizhalimi kaum musyrikin namun tidak berusahan berhijrah padahal mereka mampu sehingga kezhaliman itu mengakibatkan mereka tidak dalam menjalankan yang fardhu.
An- Nisaa 97-99, “Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat dengan berkata, ‘Apakah yang kamu telah lakukan mengenai agama kamu?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di bumi’. Malaikat bertanya lagi, ‘Tidakkah bumi Allah itu luas, yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya?’ Maka orang-orang yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang lemah (lagi uzur) dari kaum lelaki dan perempuan serta kanak-kanak, yang tidak berdaya upaya mencari helah (untuk melepaskan diri) dan tidak pula mengetahui sesuatu jalan (untuk berhijrah). Maka mereka (yang demikian sifatnya), mudah-mudahan Allah maafkan mereka. Dan (ingatlah), Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.”

No comments:

Post a Comment