Friday, April 27, 2012

Bisikan Syaitan dalam Rumah Tangga


Syaitan merupakan musuh yang nyata terdapat dalam beberapa firman Allah SWT.  …dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-An’am, 142)

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS al-Fathir, 6)
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah, 208)
Firman Allah SWT lebih lanjut dalam Al Qur’an tentang syaitan, Alladzii yuwaswisu fii suduurin naas. Syaitan membisik-bisikkan dalam hati manusia berupa keraguan, mazmumah, dan lain yang membawa pada keburukan
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Rob/yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia, dari golongan jin dan manusia.” QS. An-Nas.

Sumpah iblis sebelum dibawa keluar dari syurga dalam Al hijr 39, Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.


Bentuk-bentuk bisikan syaitan;
1.       Bisikan kejemuan. Istri merasa jemu dengan suami, atau sebaliknya. Kadang ada suami isteri yang tidak bergaduh dan tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, namun salah satunya menginginkan pisah karena jemu dan benci bahkan tidak ingin lagi melihat wajahnya lagi. Bentuk-bentuknya bisa berupa keluhan, kata-kata yang terdengan salah karena sudah jemu  dan malas berhubungan dengan pasangannya.
2.     Bisikan tidak merasa hormat kepada pasangan. Dalam rumah tangga, penghormatan merupakan perkara yang penting bagi kedua belah fihak. Pada suatu ketika syaitan akan membesarkan keaiban suami di depan isteri dan sebaliknya sehingga hilang hormat. Diperlihatkan dan dibesar-besarkan depan mata kita seolah-olah tidak ada kebaikan. Bila hilang hormat maka muncul sikap marah-marah atau perilaku buruk lainnya. Sikap ini kemudian akan memperburuk hubungan suami isteri dalam rumah  tangga. Jika kita sadar bahwa syaitan membisikkan perasaan tidak hormat ini, maka perlu cepat sadar untuk melawannya. Kadang bisikan tidak hormat sampai melebar misalnya sampai ke mertua. Syaitan punya target tertentu dalam merusak rumah tangga karena itu merupakan pekerjaannya, jika berhasil mencapai target maka ia mendapat penghargaan, bila tidak mencapai target mendapat sanksi.
3.    Bisikan prasangka yang dapat mengakibatkan keburukan misalnya kecemburuan yang merusakkan. Cemburu di bisikkan dan dibesar-besarkan, padahal kenyataannya tidak seperti yang disangkakan. Ketika terjadi pergaduhan akibat bisikan-bisikan tersebut kita perlu tahu dan menyadari kira-kira mana yang merupakan nafsu kita dan mana yang merupakan bisikan syaitan. Biasanya jika dari syaitan, bentuknya 'merancang' misalnya kembali ke rumah orang tuamu' atau 'keluar kau dari rumah'. Kalau dari nafsu biasanya 'merengek', misalnya 'janganlah begitu' atau lainnya.
4.    Bisikan syaitan untuk tidak bertimbang rasa, mengungkit-ungkit, ‘dulu kamu susah, saya yang menolongmu’, menghentak pintu, menghentak piring. Bisikan rasional seolah-olah benar, seakan-akan yang dikatakan atau dilakukan benar. Bila berlarutan, maka pasangan makan hati. Akhirnya jauh hati dan tidak ada hati lagi, cerai. Dasim memang tugasnya menghancurkan rumah tangga sehingga jika berhasil ia mendapat penghargaan.
5.       Dibisikkan rasa tidak cukup/tidak qanaah. Ada saja yang tidak cukup, padahal sudah terpenuhi, tidak syukur. Bahkan meminta lebih yang tak munasabah. Saran mengatasi, tambah ilmu untuk bersikap terbaik.
6.       Bisikan merasa benar, syaitan selalu membisikan untuk selalu merasa diri benar, yang lain yang salah dan susah menerima nasehat.  Walau nasehat menyakitkan, namun kalau benar maka harus diterima. Yang menasehati biasanya memberi pandangan demi kebaikan misalnya dari mertua, dari istri atau suami. Sedangkan syaitan telah membisikkan kita senantiasa benar sehingga tidak mau menerima nasehat tersebut bahkan akhirnya memusuhi orang yang memberi nasehat.  Yang penting adalah, merasa keaiban diri, untuk memperbaiki diri. Bila seorang dapat melihat kelemahan diri maka ia akan bertaubat dan memperbaiki diri. Syaitan menutup keaiban sehingga orang tidak merasa salah.
7.       Bisikan menzalimi; mengambil, menahan hak, dan meletakkan hak. Contoh suami mengambil hak istri dan anak misalnya berkawin lebih sehingga dengan mengambil hak istri pertama untuk mengambil hati istri kedua karena bisikan syaitan yang menzalimi. Menahan hak; 5 tahun pertama perkawinan sama-sama kerja, istri merelakan nafkah untuk beli barang-barang sehari-hari dan makan, setelah 5 th suami naik gaji, istri tetap dibiarkan memenuhi kebutuhan. Menzalimi mental, dengan perkataan menekan suami/istri secara berlebihan padahal kenyataan tidak berlaku seperti yang diperkatakan. Menzalimi secara fisik, mendera.
Penawar yang mendidingi dari bisikan syaitan.
1.       Berlindung pada Allah ta’ala dari syaitan, Al-Fushilat 36, ‘Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.  Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ Ucapkan "Audzubillah himinasyaitonirrajim" dan istighfar sebanyak-banyaknya karena syaitan takut jika disebut nama Allah.
2.       Ikhlaskan niat, dalam surat Al hijr syaitan bersumpah akan menyesatkan anak adam, namun dalam ayat 40 disebutkan kecuali siapa saja yang ikhlas. Kita menjadi isteri sholehah bukan karena suami, tetapi karena Allah yang suruh. Demikian juga, suami diperintahkan untuk bersikap ma’ruf dan bersabar kepada isterinya karena perintah Allah.

Catatanku, dari majelis ilmu ikim fm, Sabtu, 28 April 2012 pukul 11.17 am.

No comments:

Post a Comment