Monday, April 30, 2012

Hakikat berhaji menurut Iman Ghazali [7]; Ketika Tawaf

Yang perlu diperhatikan adalah;
1.       Ketika tawaf hati perlu diisi dengan cinta, takut, harap dan pengakuan atas keagungan Allah,
2.       Sadar bahwa ada juga lintasan malaikat yang teramat dekat dengan-Nya. Mereka mengelilingi ‘Arasy. Tawaf tidak sekedar jasmani, namun tawaf hati melalui ingat pada Allah SWT.
3.       Menyadari kehadiran-Nya, Baitullah adalah symbol pengadilan Ilahi di dunia dan sekedar gerbang menuju alam malakut. Sadar adanya hubungan dengan Bait al-Ma’mur [rumah berpenduduk banyak] yang terletak antara syurga dan ka’bah. Malaikat yang tawaf di syurga mirip dengan manusia yang tawaf di bumi.
4.       Bila tidak dapat ‘menlihat’ ini dan melakukan tawaf tingkat ini, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan sebaik mungkin, meniru sebaik mungkin. Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk dalam golongan tersebut.’ HR. Abu Dawud, sahih. Imam Ghazali menjelaskan bahwa siapa yang mampu melakukan tawaf tingkatan tinggi ini, Ka’bah akan mengunjunginya dan berputar mengelilingi dan hanya orang yang  mempunyai kasyaf untuk melihat peristiwa ini, dia orang yang sangat dekat dengan Allah SWT.
Sumber; Ibadah Perspektif Sufistik dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam, Al Imam Abu Hamid Ghazali. Surabaya; Risalah Gusti. Penerjemah Roudlon, S.Ag. dari Inner Dimensions of Islamic Worship, Muhtar Holland.

No comments:

Post a Comment