Thursday, April 5, 2012

Mencari Orang yang Patut Menerima Sedekah menurut Imam Ghazali

Dari delapan golongan yang berhak menerima sedekah [asnaf], Imam Ghazali  dalam ‘Ibadah Perspektif Sufistik’, menyatakan anjurannya untuk memilih diantaranya. Diantara delapan golongan itu perlu dipilih yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
1.       Yang bertakwa [taat] yang secara khusus mengarahkan pandangannya ke akhirat, tidak tertawan dengan dunia. Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan engkau makan selain makanan yang dimakan oleh orang yang bertakwa dan jangan engkau berikan makanan kecuali kepada orang yang bertakwa.’ HR. Abu Dawud dan at-Tarmidzi. Alasan yang mendasari adalah sedekah atau makanan yang kita berikan kepada orang yang bertakwa akan memperkuat mereka dalam ketakwaannya. Membantu mereka sama artinya telah bekerjasama beribadah di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW juga  bersabda, ‘Berikanlah makananmu kepada orang-orang yang bertakwa, dan tujukan kebaikanmu kepada orang-orang beriman [mukmin]. HR. Ibnu al-Mubarak.
2.       Ahli ilmu, untuk menyokong kegiatannya mencari ilmu karena belajar merupakan bentuk ibadah yang paling mulia jika niatnya benar. Ibnu al-Mubarak biasanya memberikan sedekahnya kepada ahli ilmu. Katanya, ‘Aku tahu bahwa tidak ada derajad yang lebih tinggi sesudah kenabian selain derajad orang berilmu. Jika mereka disibukkan mencari nafkah maka tidak dapat memusatkan perhatiannya dalam belajar. Oleh karena itu kuberikan sedekah kepada mereka supaya dapat sepenuhnya belajar.’
3.       Orang yang Ikhlas dalam ketakwaan-Nya kepada Allah SWT dan berserah diri hanya kepada-Nya. Ketauhidan orang ini nampak ketika diberi, ia bersyukur kepada-Nya karena sadar bahwa pemberian itu adalah karena kuasanya. Demikian juga yang memberi, ia akan sangat menyadari bahwa tidak perlu pujian dari orang karena ia tahu bahwa Allah yang sebenarnya menggerakkan dia, memotivasi dia untuk bersedekah. Demikian juga harta yang digunakan untuk bersedekah, semua itu datang dari-Nya semata. Rasulullah SAW pernah mengutus utusan untuk mengirim pemberiannya pada seseorang dengan pesan memperhatikan apa yang dikatakan oleh sipenerima. Dilaporkan bahwa sipenerima mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak pernah lupa pada yang mengingat-Nya dan tidak menyia-nyiakan yang mensyukuri-Nya. Wahai Tuhan, Engkau tidak pernah melupakan si fulan [dirinya] maka jangan Engkau biarkan si fulan melupakan-Mu.’  Rasulullah SAW bersabda,’Aku tahu bahwa ia memang berbicara demikian.’
4.       Penerima adalah orang yang merahasiakan keperluannya kecuali pada diri sendiri, tidak memperbanyak cerita dan keluhan, walau rahmat Allah terlepas, namun ia tetap menunjukkan akhlak yang mulia. Allah SWT berfirman, ‘Mereka yang tidak tahu menyangka orang tersebut sudah kaya, karena dengan kerendahan hatinya engkau kenali mereka pada ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara mendesak…’ QS. Al-Baqarah 273.
5.       Orang yang berkeluarga besar atau yang tidak mampu disebabkan sakit atau sebab lainnya. Allah SWT berfirman, ‘Sedekah adalah untuk orang-orang miskin, yang terhalang jalan…’ QS. Al-Baqarah 273.
6.       Orang yang terdekat atau bagian dari keluarga dari pihak bapak atau ibu. Diharapkan pemberian itu akan mempererat kekeluargaan.
Imam Ghazali  ‘Ibadah Perspektif Sufistik’, Surabaya; Risalah Gusti, 1999. Diterjemahkan Roudlon, S.Ag. dari buku Inner Dimensions of Islamic Worship, Muhtar Holland.

No comments:

Post a Comment