Thursday, April 5, 2012

Wasiat Terakhirmu [wasiat alm. Suami serta penjelasan Prof. Dr. Hamka dan Sayyid Qutb mengenai Iman dan Amal Sholeh]


Masih segar dalam ingatan, sekitar  lima hari sebelum almarhum suami meninggal, beliau mendekati saya dan duduk di dekat saya. Beliau mengatakan kepada saya suatu pesan. Pesan yang disampaikan  berupa wasiat yang membuat hati saya menjadi tidak karuan mendengarnya, namun demikian  diri mencatat apa yang dipesankan. Beliau tinggalkan wasiat iman dan amal sholeh. Subhanallah, walhamdulillah wasiat itu tlah terukir dalam qolbu hingga detik ini. Kadang kuingatkan lagi untuk di resapi, dilaksanakan, diperteguh pada diri dan anak-anak kami. Kadang kusampaikan kepada saudara dan teman mengharap ada manfaat yang dipetik dari wasiat yang ditinggalkan itu bagi yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan, bagi saudara seiman.
Dalam sebuah buku kumpulan tulisan-tulisannya, Prof. Dr. Hamka seorang ulama tanah Melayu yang juga berjiwa seni karena sering karya-karyanya dapat dikategorikan karya sastra dan tentu saja sangat Islami menjelaskan mengenai hal ini. Buku ini diterbitkan di Malaysia oleh Pustaka Dini Sdn. Bhd., 2003 dengan judul Kesepaduan Iman dan Amal Sholeh. Berikut ini adalah penjelasan beliau mengenai Iman dan Amal Sholeh.
Amantu Billah…!!!   Sekarang saya telah percaya kepada Allah, artinya telah kenal, telah yakin. Inilah iman!
Wa aslamtu lahu…!!! Sekarang saya telah menyerah kepada-Nya dengan bulat hati. Artinya segala perintah dan hukumnya kutaati, perintah kukerjakan, larangan kuhentikan dangan segenap kerelaan. Inilah Islam !
Iman dan Islam, percaya dan menyerah adalah dua kata yang tidak terpisah selamanya. Tidak cukup dengan percaya tanpa menyerah dan menyerah tidak sempurna tanpa kepercayaan. Bukti percaya, ikuti perintahnya, ikut perintah karena percaya. Kesimpulan keduanya adalah kepercayaan dan penundukan, itulah agama.
Bila telah mengakui beriman tapi tidak menjalankan perintah, belum bernama mukmin.
Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya)” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Surat An-Nur, 47.
Berpadunya kepercayaan dan penyerahan, di antara akidah dan ibadah, di antara pengakuan hati dan perbuatan, itulah agama yang sewajarnya, dinamakan Agama Islam.
Setelah itu diciptakan kaedah, Agama Islam merupakan agama yang diwahyukan oleh Allah SWT melalui perantaraan malaikat jibril kepada Rasulullah SAW, termaktub dalam Al Qur’an dan sunnah. Sunnah merupakan jalan tol yang lurus yang mesti hamba Allah tempuh dan telah didahului oleh Nabi dan kita ikut dibelakangnya, atau tradisi Nabi SAW.
Jadi mengaku saja percaya kepada Tuhan padahal tidak mengikut perintah Al Qur’an dan sunnah nabi SAW, bukanlah iman lagi dan bukanlah Islam. Kalau kita percaya kepada Tuhan, tentu kita mencintai-Nya, tentu sudi berkorban apa saja. Jika cinta tak sudi berkorban, ini cinta palsu, apalagi kepada Tuhan, berarti yang demikian iman palsu, Islam palsu.
Abu Bakar, Khalifah yang pertama memerangi orang yang enggan membayar zakat. Semula Umar pernah menghalanginya sehingga spontan Abu Bakar mengatakan, ‘Demi Allah, saya tidak mau membeda-bedakan orang yang meninggalkan sholat dan yang enggan membayar zakat.’
Prof. Dr. Hamka mengajak kita berfikir dan bertanya dalam hati mengenai perilaku kita apabila tidak menaati aturan agama secara kaffah walau kita mengaku beriman maka kita bukan Islam lagi, Islam kita palsu, kita durhaka, kita dusta.
1.       Jika hati kita berkata; ‘Ini sangat berat, tidak diakui lagi sebagai Islam! Maka jawaban batin seperti itu menunjukkan kita bertambah jauh dari Islam.
2.       Jika hati kita berkata; ‘Memang seharusnya beginilah semestinya menjadi seorang muslim. Apa gunanya pengakuan saya jika tidak diikuti amal sholeh! Ini pertanda kelemahan jiwa, tidak dapat mengendalikan diri-sendiri. Oleh karena itu saya akan berusaha menjadi mukmin  yang sebenar-benarnya.’ Ini artinya kita semakin mendekat kepada-Nya.
Hubungan antara iman dan amal sholeh adalah hubungan antara budi dan perangai. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa budi yang tinggi hendaklah dilatih terus-menerus sepaya menjadi perangai atau kebiasaan.
Dalam Al Qur’an, salah satu surat yang menyebutkan mengenai iman dan amal sholeh adalah dalam QS. Al-Anbiya, 94. "Barang siapa mengerjakan amalan yang sholeh, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari, dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya."

Sayyid Qutb Rahimahullah dalam Fi Zilalil Qur’an menafsirkan ayat tersebut dengan penjelasan sebagai berikut. Merupakan hukum amalan dan balasan. Setiap amalan yang sholeh diterima bila dilakukan berlandaskan keimanan. Keimanan akan membuahkan amalan yang baik dan sebaliknya amalan tersebut juga berperan dalam meneguhkan keimanan. Keimanan juga merupakan pondasi dalam kehidupan manusia, selain merupakan penghubung antara manusia dengan alam al-wujud. Dengan iman sebagai pondasi, maka amal sholeh merupakan bangunannya. Amal sholeh ini merupakan bukti keberadaan iman dalam dada manusia dan keadaan keimanan itu sendiri bagaimana kondisinya.
Hal ini menjelaskan mengapa dalam Al Qur’an selalu beriringan antara iman dan amal sholeh ketika disebut amalan dan balasan. Tidak ada balasan pada keimanan yang kosong, mati tidak menghasilkan amal sholeh. Demikian juga tidak ada balasan pada amalan yang ditegakkan tanpa ada keimanan. Amalan yang sholeh tidak begitu saja wujud tanpa aturan yang ditegakkan secara rapi berdasarkan keimanan kepada Allah SWT. Hanya keimanan yang berdasarkan pada Allah SWT yang memberi ijin berbuahnya amal sholeh yang akan mencapai akhir atau tujuan yang telah pula Allah tetapkan dengan peraturan-Nya. Allah pun telah menetapkan ganjaran terutama di akhirat dan di dunia sebagai balasan atas keimanan dan amal sholeh tersebut, tidak terkecuali bahkan pada yang telah meneriman azab dengan kehancuran saat di dunia, mereka tetap akan dikembalikan untuk menerima balasan terakhirnya, dan ini adalah pasti.

No comments:

Post a Comment