Monday, May 28, 2012

Memahami dan Mengurus Taqdir


Hidup adalah untuk diuji, justru ujian untuk mendidik kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Allah memerintahkan apabila diuji, maka kita perlu istirja’ supaya kita betul-betul memahami bahwa segala sesuatunya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Didatangkan ujian-ujian kecil sebelum datang ujian lebih besar. Ujian ini untuk mengingatkan kita kembali kepada Allah sebelum kita kembali kepada-Nya. Bila diuji berkali-kali dengan ujian yang pada prinsipnya sama, maka perlu muhasabah adakah kita tidak lulus ujian sebelumnya. Ujian itu untuk menguruskan taqdir Allah. Bila seseorang mendapat ujian  kesempitan uang berkali-kali maka ia belum lulus untuk ujian sebelumnya, perlu muhasabah dan memperbaiki diri. Kita pun perlu memahami tujuan ujian itu diberikan pada kita karena hal ini membantu kita dalam mengurus taqdir.  
Allah SWT memberi ujian dalam bentuk
1.       bala, seseorang yang telah berbuat dosa
2.       kafarah [penghapusan dosa], orang yang beriman yang selalu bercita-cita menjadi baik namun berbuat dosa
3.       meningkatkan derajad, orang yang baik yang sedang melakukan kebaikan namun terkena ujian. Sebab bila Allah sayang maka Allah uji. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat ujian.
Memahami taqdir, misalnya diuji dengan kemiskinan;
1.       Mungkin Allah ingin memberi pahala sabar
2.       Mungkin perlu meningkatkan usaha kita
3.       Mungkin kita perlu mengkoreksi cara mencari nafkah
Memahami ujian kekayaan;
1.       Supaya kita syukur
2.       Kita diberi harta untuk kita memberi seperti Allah memberi ilmu untuk kita beri ilmu pada yang lain, bila diberi kuasa berarti Allah ingin kita berlaku adil
Akhirnya, memahami taqdir ini akan memberi kita ketenangan, taqdir ini perih tetapi Allah ingin kita dekat dengan-Nya karena sayang-Nya. Dekat dengan-Nya bermakna dekat dengan keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan kita.
Tipe orang yang terkena ujian;
1.       Orang biasa yang tidak sabar di luar dan dalam hati terguris.
2.       Sabar, hati sakit namun luar tetap sabar
3.       Ridha, hati tidak terguris bahkan bersyukur atas ujian di luar tidak Nampak terkena ujian.

Bagaimana kita hidup di akherat, dicorakkan dengan bagaimana kita hidup di sini. Perlu pelajari sifat hidup orang yang ada di syurga tertinggi atau syurga firdaus. Orang ini biasanya hidup dengan penuh ketenangan, keimanan, tunduk patuh kepada Allah SWT.
Kesimpulan;  Orang yang bahagia adalah yang memahami taqdir, orang yang memahami taqdir akan dapat mengurus taqdir. Mengurus taqdir berkaitan dengan mengurus hati. Hati yang terurus dengan baik perlu dzikrullah.

Catatanku dari majelis ilmu ikim fm, 28 Mei 2012 jam 05.00pm.


No comments:

Post a Comment