Sunday, May 6, 2012

Memilih Pasangan atau Jodoh Beragama


Hal yang mendasari mengapa seseorang beragama perlu dipilih adalah hadits sebagai berikut;
Dari Abu Hurairah, baginda SAW berkata, ‘Biasanya perempuan dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, (jika tidak) maka rugilah kamu”. HR. Bukhari. Nabi menyuruh kita mencari pasangan yg beragama, maknanya yang benar-benar mengimani dan mengamalkan ajaran agama Islam.
Lalu apa takrifan orang beragama itu, menurut firman Allah SWT dalam Al Quran, Surat Al Imran: 19,  "Innaddina 'Indallahil Islam" (Sesungguhnya agama diridhai Allah hanyalah Islam). Ini bermakna, agama yang membawa kita mengenal dan menggapai ridha Allah SWT adalah Islam.  Jadi orang yang beragama adalah orang yang memegang secara bersungguh-sungguh serta mengamalkannya sesuai yang disyariatkan. Untuk mengetahuinya pasangan yang beragama, kita pun perlu memahami berbagai jenis pengamalan agama.

Cara mengamalan agama ada 7 tipe;
1.       Mengamalkan agama dg taqlid, ikut-ikutan. Orang dengar ceramah dia ikut, orang mengikuti majelis dzikir, maka ia pun ikut. Keikutsertaannya semata-mata hanya karena ikut-ikutan tidak dengan kesadaran diri. Termasuk kelompok ini apabila ini hanya berlaku pada tahap awal dan seterusnya serta tidak ada perubahan tetap  sekedar ikut-ikutan namun bukan karena keikhlasan diri.  Orang ini akan bagus jika yang diikut bagus. Bermasalah jika yang diikut sesat. Bentuk lainnya adalah pengamalan tanpa guru, bahaya karena tidak bisa membedakan dengan yang seharusnya. Saran, berguru dengan lebih dari seorang, belajar ke masjid atau tempat lain. Orang yang tidak dapat menghabiskan 1 jam saja seminggu utk belajar agama bahaya karena belajar dapat menjadi kontrol untuk tetap di jalan yang benar.

2.      Mengamalkan dengan nafsu, biasanya meringankan agama atau berlebihan. Mana yang mudah dilaksanakan, mana yang susah ditinggalkan. Bisa jadi ia sekolah agama, namun mengapa sholatnya kurang baik, karena cara mengamalkan agama kurang betul atau dengan nafsu.

3.      Mengamalkan dengan budaya atau kebiasaan keluarga misalnya dari kecil ia melihat ibu memakai jilbab maka ia pun memakainya. Karena sekedar kebiasaan, maka bisa jadi yang dilakukan jbukan karena alasan yang semestinya. Sebenarnya ini tidak apa-apa asalkan kemudian benar-benar memahami hakekat memakai jilbab, yaitu mematuhi perintah Allah SWT. Kalau tidak bisa jadi akan dijumpai orang yang berjilbab misalnya tapi, suka marah-marah atau penampilannya tidak sesuai dengan akhlak secara umum.

4.       Mengamalkan agama secara juz’iyah atau sebagian-sebagian QS Al Baqarah 85. ’ .. Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian  Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu , melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat­ sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan.Kadang perbuatan baik dilakukan, namun masih juga melakukan perbuatan jahat.’  Ada yang perbuatan baik tidak dilakukan namun juga tidak berbuat jahat, misalnya tidak sholat jum’at tapi dia tidak pernah mengganggu orang.  Kalau diingatkan bisa jadi menjawab ‘itu orang yang sholat jum’at kalau pulang masih mencaci orang, kalau aku kan tidak pernah mengganggu orang’. Ada yang dengan keluarga bagus, bekerja  dengan baik memberi nafkah keluarga, tapi tidak sholat. Hal ini terkait dengan ilmu, kalau ilmu ditingkatkan insyaAllah perilaku yang demikian dapat berubah sedikit demi sedikit.

5.       Mengamalkan agama karena kepentingan tertentu. Misalnya untuk mendapat nama, pujian, keuntungan, penghargaan. Al Baqarah 41. ‘Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.’  Orang jenis ini misalnya pemurah dengan teman-temannya namun tidak demikian dengan istrinya. Kebaikannya dengan kawan-kawan tersebut karena maksud-maksud tertentu, sedangkan perilaku aslinya tidak seperti itu bahkan dengan keluarganya sendiri.

6.       Mengamalkan agama dengan akal, yang logik diambil yang tidak dihindari. QS. Al Baqarah 79. ‘Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.’ Orang jenis ini ada yang menafsirkan ayat sesuai kemauan dan akalnya sendiri. Kadang disebut liberal. Contoh ada yang menafsirkan masalah zina seperti berikut,’ zina itu bila yang perempuan tidak mau, kalau perempuan yang diajak zina mau maka itu bukan zina’, dengan bekal penafsirannya ini jadi ia mempunyai wanita simpanan. Lebih buruk lagi bila ia sebarkan fahamnya tersebut.

7.     Mengamalkan agama dengan ilmu dan iman, orang jenis ini yang kita kehendaki menjadi pasangan. QS Al Ahzab 36  ‘Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.’

Agama adalah cara hidup, maka harus diamalkan dan pengamalan ikhlas karena Allah SWT. Bila kita belum mampu mengamalkan secara benar dan kaffah, maka semestinya minta ampun kepada Allah SWT. InsyaAllah, niat dan cita-cita yang baik diberi jalan dan dimudahkan Allah SWT.

Penjelasan-penjelasan atau pertanyaan;
1.       Sebaiknya memilih mana, orang dengan latar belakang pendidikan agama namun perangai kurang baik dan orang yang tidak berlatar belakang agama namun perilakunya atau akhlaknya baik. Ustadz menjawab itu ada hubungan dengan pengamalan dan penghayatan terhadap agama maka dahulukan yang akhlak baik, karena orang yang demikian biasanya bersungguh-sungguh menerapkan ilmu agama yang dia sangat menghargai dan meresapi ilmu agama tersebut. Orang yang demikian juga mudah menerima nasehat dan tinggi semangat mencari ilmu karena hati yang lembut dan terbuka untuk ilmu. Walaupun ilmu tidak terlalu banyak, namun yang sedikit itu diamalkan akan jadi bagus, apalagi semangat menambah ilmu ada, yang sedikit akan menjadi banyak.

2.       Proses mendidik diri supaya diri dan keluarga mengamalkan agama dengan cara yang baik;
a.       Membawa ke dapur barang yang halal. Maknanya, menafkahi keluarga dengan barang halal karena ini akan berpengaruh pada keberkahan kehidupan rumah tangga.
b.      Berpuasa untuk membentuk akhlak yang baik, karena ini dapat mengekang nafsu, mengarahkan diri melakukan perbuatan yang baik saja.
c.       Bila pasangan mudah marah, mungkin itu merupakan ujian Allah SWT pada kita, perlu ditegur, tegur dan tegur dengan baik, semoga berubah. Istri juga bukan tempat untuk mencurahkan kekesalan sehingga selalu dibuli, istri adalah tempat menumpahkan kasih sayang. Istri juga perlu menjadi pendengar yang baik, menjadi penenang bagi suami.
d.      Baca qur’an dan menangis maka kalau tidak bisa menangis pura-puralah menangis, begitu juga dengan hubungan bersama pasangan. Bila susah mendengar keluhan, berusahalah tetap mendengar dan pura-puralah mendengar, insyaAllah dimudahkan untuk menjadi penenang dan pembahagia suami. Demikian pula dalam hal-hal lain, berusahalah untuk melakukan yang terbaik bagi pasangan, berusaha, dan berusaha, insyaAllah dimudahkan.

3.       Perlu diperhatikan
a.       Syukuri jodoh bila telah datang.
b.      Tidak akan menyesal orang yang istikharah dan musyawarah.
c.       Setelah istikharah, lintasan pertama dalam hati, atau yang dimudahkan, tidak semestinya dari mimpi walau bisa dari mimpi.

4.       Bila ada keaiban yang baru diketahui setelah menikah;
a.       Kita memang kecewa, tapi ada dua hal, pertama, bila dulu kita pernah tanya tapi tidak diberitahu, itu memang kurang baik. Bila kita ridha, maka terima keadaan sekarang dan selesaikan yang menjadi permasalahan dengan ma’ruf. Jika tidak ridha, selesaikan pula dengan baik dan jangan menzalimi. Kedua, bila kita dulu sebelum menikah tidak bertanya dan keluarga istri tidak memberitahu, mereka tidak salah karena keaiban yang telah ditutupkan Allah SWT, tidak perlu dibuka.
b.      Selesaikan masalah dengan sebaik-baiknya, baik untuk diri, anak, istri dan keluarga besar. Bila tetap menerima pasangan seadanya, itu baik. Bila tidak dapat menerima, maka selesaikanlah dengan bijaksana dan tidak memperlakukan kezaliman dan kekejian kepada pasangan dan keluarganya. Kalau terpaksa berpisah, pisahlah dengan baik, berikan yang menjadi hak istri dan anak, jangan musuhi mereka dan keluarganya. Kekejian jangan dilakukan, misalnya sibuk mau poligami namun menelantarkan istri pertama tadi dengan alasan ia telah tertipu oleh istri dan pihak istri. Atau kekejian bentuk lain, menggantung istri, menafkahi tidak, menceraikan juga tidak, menelantarkan anak, memusuhi keluarga istri, dll.

Catatanku dari majelis ilmu Ikim fm, Senin 7 Mei 2012, 10.30 am dan Sabtu 19 Mei 2010.

No comments:

Post a Comment