Monday, May 21, 2012

Penghambaan sumber ketenangan


Semestinya kita memohon kepada Allah bukan untuk hidup mudah tetapi supaya tabah melalui segala ujian-Nya, karena sesungguhnya kita hidup untuk diuji dan dilihat siapa yang terbaik amalannya.  Allah SWT berfirman dalam QS Al Mulk ayat 2;
‘Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.’
 Oleh karena itu, sebagai hamba Allah kita perlu selalu mengingat Allah SWT dan menyadarkan diri sendiri kedudukan kita sebagai insan yang perlu selalu menghamba. Apabila kita lakukan maka dalam hati akan timbul 4 kesan dalam hati sebagai berikut.
1.       Timbul rasa kehambaan. Rasa kehambaan ini menimbulkan rasa lemah, lemah dibandingkan Allah SWT yang Maha Besar. Hal ini terkait dengan hubungan hati kita dengan Tuhan, jika Allah Maha besar maka kita sebaliknya, yaitu kita rasa tidak tahu, rasa lemah, dll.
a.       Sebagai hamba, kita memang patut diuji. Kala kita mengalami musibah maka kita mengucap istirja’ tidak hanya soal kematian saja. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan dikembalikan. Arti disebalik itu adalah jika kita milik Allah, maka Allah patut menguji kita, sehingga semestinya kita ridha. Hamba yang baik berkata, ‘Aku telah terpilih untuk diuji.’ Imam Ghazali pernah mengatakan, ‘Cukup dikatakan seorang hamba memberontak pada Allah bila ketika mendapat ujian maka dia merubah kebiasaannya.’
b.      Kita bukan pemilik, tapi peminjam, maka bila sesuatu hal itu diambil kembali, maka kita tenang karena memang bukan milik kita.
c.       Tidak menyalahkan orang lain dan Allah karena ia mencari kesalahan diri untuk kemudian diperbaiki. Dia tidak akan terkejut pada ujian, karena sudah tahu, sudah siap, ujian adalah sunnatullah dalam hidup.  Biasanya mereka berkata, ‘Sudah terjadi apa yang dijanjikan Allah pada diriku.’ Ujian yang datang seumpama obat, pahit namun membawa kebaikan, itu merupakan mujahadah. Disebalik kepahitan itu ada kemanisan tidak hanya di syurga nanti tetapi juga ketika di dunia. Semakin pahit penderitaan semakin manis Allah memberi penghargaan atas ujian tersebut. Ujian merupakan cara Allah memperkenalkan diri, misalnya ujian sakit akan membuat seorang hamba sadar bahwa yang menyembuhkan Allah sehingga ia akan menghamba memohon Allah untuk memberi karunia kesembuhan.

2.       Timbul rasa bertuhan. Bila kita merasa bertuhan, maka kita pun punya rasa lemah, maka timbul rasa berharap dan bergantung kepada yang lebih mulia yaitu Allah SWT. Rasa bertuhan ini menimbulkan kekuatan. Timbul keinginan menceritakan kepada yang disayangi dan dipercayai maka kita akan merasa tenang walau masalah belum selesai. Selain itu kalau tidak ada orang yang bisa diajak berkongsi cerita maka tulis di kertas, sayangi binatang-binatang kesayangan misalnya ikan, kucing.  Bila dengan makhluk Allah kita bisa mendapat ketenangan apalagi dengan Allah SWT melalui do’a, dzikir, sholat.  Allah SWT tidak pernah bosan sedangkan makhluk bisa bosan mendengar keluhan kita. Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya. Sholat merupakan kerehatan pada jiwa, sholat merupakan mi’raj/naiknya rasa penghambaan kita kepada Allah SWT.

3.       Faham taqdir Allah
4.       Menghayati hikmah dibalik setiap peristiwa.

Untuk mengekalkan 1 dan 2 maka kita perlu;
a.       Meningkatkan ilmu, ilmu tauhid secara berterusan,
b.      Ilmu tersebut dipelajari dan dilaksanakan dalam ibadah kita dan masukkan ilmu itu dalam hati kita. Ibadah menyuburkan ilmu.
c.       Allah selalu menguji untuk suatu tujuan, kita perlu mencari tahu tujuan musibah yang terjadi itu apa. Jika Allah memberi kepedihan itu bertujuan supaya kita sabar atau berhenti dari maksiat dan bertobat, bila diberi keleluasaan itu bertujuan supaya kita dapat bersyukur. Bila diberi kekuasaa, bertujuan memberi kita rasa tanggung jawab terhadap amanah dan seterusnya.

Catatanku dari majelis ikim fm, senin 21 Mei 2012 jam 05.00pm.

No comments:

Post a Comment