Thursday, June 21, 2012

Cinta Hakiki yang Tulus Suci Karunia Allah SWT, Cinta Karena Allah


Pulang ke rumah dari beraktivitas sore ini, tertegun aku melihat sepasang muda mudi bercengkerama melebihi batas-batas yang diperbolehkan agama. Pikiran langsung teringat tiga anak perempuanku, syukur  ya Allah yang telah melindungi mereka dan memberi tempat selamat yang insyaAllah penuh berkah. Maha Suci Dia yang telah melindungi anak-anak  ini dan semoga juga anak-anak  siapa saja yang membaca tulisan ini termasuk juga diri yang membaca ini, terlindung dari kemaksiatan akibat salah dalam menempatkan cinta dalam diri. Semoga terlindung umat ini dan generasi penerus umat ini dari kehancuran karena kemaksiatan.

Menjalani kehidupan di dunia ini dengan seluruh karunia yang Allah beri, apabila tidak didasari dengan keimanan akan membawa pada kemudharatan. Namun demikian, apabila senantiasa diingat bahwa hanya kepada-Nya lah kita kembali dan itu pasti adanya, insyaAllah kita akan selamat. Allah SWT berfirman dalam Ali- Imran, 14

‘Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).’

Cinta bisa jadi sumber kemaksiatan bila tlah menjadi cinta yang terlarang.  Cinta menjadi terlarang bila;
1.       Cinta bukan karena Allah.
2.       Mencintai perkara mungkar
3.       Cinta yang melalaikan dari mengingat Allah SWT.

Di sisi agama Islam, cinta tertinggi dan cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah SWT. Cinta seumpama ini, selalu selari dengan tingkat keimanan seseorang. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah 165.

‘Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).’

Seterusnya, cinta kepada Rasulullah SAW serta para nabi dan rasul. Para rasul diutus Allah SWT untuk memberi cahaya kepada umat saat kegelapan, meluruskan jalan ketika umat dalam kesesatan. Oleh karena itu sebagai tanda bahwa kita sangat berterima kasih atas pengorbanan Rasulullah, para nabi dan rasul tersebut tentulah kita akan mencintai mereka. Diriwayatkan dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda; ‘Tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang akan merasakan kemanisan iman; seseorang yang mencintai Allah dan rasul-Nya lebih daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dari kekafiran tersebut, sebagaimana ia juga tidak suka dicampakkan ke dalam neraka.’

Setelah itu, cinta kepada sesama manusia yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Perlu kita fahami bahwa Allah SWT tidak pernah meletakkan cinta dalam hati seseorang itu secara sewenang-wenang. Biasanya pula, manusia yang dianugerahkan cinta oleh Allah ialah manusia yang juga mencintai apa juga yang dicintai Allah karena Allah. Orang seperti ini merasakan cinta yang juga merupakan tanda keimanan, karena ia mencintai seseorang semata untuk mendapatkan rahmat, keridhaan dan ganjaran dari Allah SWT. Cinta ini luhur karena merupakan kesan dari mempertahankan kesucian diri, harga diri dan martabat. Ini cinta sejati karena tidak melanggar nilai-nilai agama, bahkan justru cintanya ini cinta yang mendukung langkah menuju Allah SWT.

Pada insan yang saling mencinta dalam cinta yang suci, akan nampak ciri-ciri saling memperhatikan kebaikan, kebahagiaan, dan kesejahteraan pasangannya. Mereka juga akan saling mempunyai komitmen yang kuat untuk meneguhkan hubungan serta sikap suka berkorban dalam berbagai hal baik material maupun non material. Semua ini dilakukan tetap dalam koridor aturan-aturan agama Islam yang pada akhirnya semakin baik hubungan cinta yang sesuai dengan aturan agama tersebut akan membawa mereka semakin dekat kepada Allah SWT. Wadah yang tidak dapat diganti dengan sarana yang lain dalam hal ini adalah pernikahan. Pacaran, hubungan teman tapi mesra atau ‘TTM’ atau hubungan tanpa status ‘HTS’ atau lainnya, sama sekali tidak membawa kebaikan, justru merupakan sarana kemaksiatan.

Mengakhiri tulisan kali ini, ada baiknya kita simak bait-bait puisi dibawah ini yang insyaAllah akan terasa indah untuk dapat kita renungkan sejenak.


Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepada-Mu,
agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-MU

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
 jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta yang semu.

Ya Rabbi, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
 rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Sebagian dinukil dari Majalah Cahaya, Februari 2007, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia. Hal. 9, 10 dan 40 dengan perubahan.

2 comments:

  1. Aku senang sekali membaca tulisan ini, semoga Allah selalu mencurahkan rahmat serta maghfirah-Nya atas penulis.. Amin yaa rabbal 'alamin..

    ReplyDelete